Minggu, 31 Maret 2013

Festival Jajanan Bango Semarang

Filled under:



Semarang (31/3), Festival Jajanan Bango tahun 2013 kembali menyambangi kota atlas ini, tepatnya di Stadion Diponegoro. Semarang memiliki sejarah penting terhadap keberlangsungan Festival Jajanan bango dari tahun ke tahun dimana kota ini menjadi kota pertama penyelenggaraan pada festival pertama tahun 2005 lalu. Sebelumnya festival jajanan ini sudah menyambangi beberapa kota antara lain; Bandung (9 Februari), Surabaya (24 Februari), Malang (17 Maret), dan Jakarta (13 April). Mengangkat tema “Legenda Kuliner Nusantara”, festival ini meyajikan 54 penjaja makanan nusantara dari Semarang, Jateng, DIY, bahkan Aceh. Festival ini dibuka mulai pukul 09.00-22.00.
Festival Jajanan Bango ini sungguh menarik, tidak hanya menyajikan beragam kuliner nusantara namun memberi pengetahuan mengenai pemilihan kedelai terbaik (kedelai mallika) sehingga menghasilkan kecap bango dengan kualitas yang tetap terjaga sejak tahun 1928. Untuk memasuki kawasan tidak dikenakan biaya, alias gratis. Begitu memasuki arena, disebelah kanan ada stand “kampoeng bango”, tempat mendapatkan informasi mengenai pembuatan kecap bango, sample bibit kedelai. Bahkan pada stand ini, didatangkan pula petani kedelai mallika dari Trenggalek, Jawa Timur.
“luas lahan kedelai yang dimiliki petani sekitar 250 ha. Satu kilo bibit kedelai bisa menghasilkan 1 kwintal kedelai mallika. Harga kedelai dari petani sendiri Rp.7500,00/kg. Kedelai ini kami jual pada koperasi petani kemudian pihak koperasi menyetorkan pada  Unilever. Hanya kedelai dengan kualitas trbaik yang dijual.” penuturan Ibu Mimik, salah satu petani kedelai dari Trenggalek.
Para petani kedelai ini tidak bekerja sendiri, mereka mendapat pembinaan pembudidayaan kedelai dari Universitas Gajah Mada dan Unilever, sehingga terjadi kemitraan diantara ketiganya.
“Utusan pihak Uniilever yaitu Spektra juga mengadakan kegiatan lain untuk Kelompok Wanita Tani (KWT) seperti lomba-lomba pidato, performa panggung, koran selembar tingkat nasional. Sedangkan kerjasama dengan pemerintah setempat menghasilkan produk “peyek kedelai” asli Trenggalek.
Acara berlangsung lancar, antusias pengunjung luar biasa. Pukul 09.00 pun pengunjung sudah memadati kawasan festival. Ada beragam kuliner dengan harga yang terjangkau, berkisar 10.000 sampai 15.000, pengunjung bisa menyantap makanan dari luar daerah tanpa harus jauh-jauh mendatangi tempat asal. Makanan yang disajikan antara lain; putu bumbung, belut menor, gado-gado Bu Sutiyah, nasi pindang Pak Ndut semarang, dll. Setiap pembelian makanan akan mendapat satu kupon yang bisa ditukar dengan kecap bango 55 ml di luar Stadion. Bukan hanya makanan, es seperti es pisang hijau, es pocong, wedang tahu bisa dinimati hanya dengan merogoh kocek Rp 5000,00. Minuman teh sariwangi dijual dengan harga Rp 2000,00/gelas, terdapat stand penjualan sunlight, blue band, elektroluks, dan walls dung-dung.  Tentu bagi pencinta kuliner, acara semacam ini tidak akan dilewatkan begitu saja. Para pencinta kuliner pun dimudahkan dengan disediakannya tempat mencuci tangan. Pengunjung pun dimanjakan dengan “Icip-icip bango manis pedas gurih”, walau hanya kardus kecil berisi tahu yang dilumuri kecap bango tapi gratis. Hiburan gratis campursari dari bapak dan ibu trenggalek menambah semangat kuliner pengnjung.
Kebanyakan pengunjung pasti merasa puas dengan diadakannya festival makanan, tapi tidak sedikit yang kecewa karena sistem yang kurang tertata. Salah satunya Neni, mahasiswa semarang ini mengaku agak kecewa .
“saya agak kecewa karena tadi saya sudah mengantri lama untuk es pisang ijo tapi begitu sudah sampai dibaris depan ternayata habis dan harus nunggu setengah jam lagi. Ya males lah! Harusnya sebelum habis  dibilangin dulu masih cukup buat berapa orang” katanya dengan nada agak sedikit kesal.
Meski ada pihak-pihak yang kecewa acara ini terbilang sukses, dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan ditengah-tengah panasnya kota Semarang.

0 komentar:

Posting Komentar