Hari itu, Rabu, 13 Desember 2012,
hiruk-pikuk kegiatan mahasiswa yang lain dari biasanya terlihat di lobi kantor
dosen PGSD FIP UNNES. Antrian panjang terlihat mengganggu mobilisasi dosen
menuju ruang kuliah, dan suara riuh rendah keluhan mahasiswa terdengar
dimana-mana.
Rata-rata mahasiswa PGSD FIP
UNNES ini mengeluhkan sistem pengeklikan untuk PEMIRA PRESIDEN BEM KM UNNES
2013 yang sedang mengalami server down.
Terlintas dipikiran saya, kalau
antusiasme warga PGSD yang luar biasa ini seakan tidak sebanding dengan
persiapan PPU PEMIRA BEM KM ini. Terbukti, jika mengingat jumlah mahasiswa PGSD
yang jauh lebih banyak dibandingkan jurusan lain se-UNNES dan antusiasme-nya
dalam mengikuti kegiatan kampus yang sudah tersohor ini tidak diimbangi oleh
sarana dan prasarana yang memadai oleh PPU.
Antrian panjang terjadi karena
hanya ada dua buah laptop dan 4 buah bilik suara untuk 1100-an total pemilih di
kampus PGSD. Selain itu, sistem yang sering down semakin membuat mahasiswa
harus antri dan berdiri lebih lama. Padahal, hari itu aktifitas perkuliahan
sangat padat.
Seorang teman terlihat keluar
antrian dengan raut muka yang cemberut. Ketika saya tanya, dia menuturkan kalau
dia ada kuliah dan tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi. Bahkan, ada
mahasiswa yang sudah antri sejak jam 10 pagi dan baru bisa mengeklik pada jam 3
sore. Saya saja yang sudah antri berdiri selama dua jam pada akhirnya justru
batal masuk bilik suara karena ada kuliah. Menyesakkan sekali. Sayangnya, bukan
hanya saya dan dua orang teman saya yang gagal mengeklik, tetapi banyak sekali
yang juga tak melakukan pemungutan suara. Alasan mereka sama : Malas mengantri.
Dampak lain yang timbul adalah
perpanjangan waktu pemungutan suara. Jadwal pemungutan suara yang awalnya
dialokasikan mulai dari jam 08.00-13.00 WIB diperpanjang hingga pukul 14.00
WIB, kemudian diperpanjang lagi hingga pukul 15.30 WIB. Jiwa sarkasme saya
seketika muncul : ‘mungkin hal ini dilakukan dengan alasan untuk ‘menebus’
tingginya animo mahasiswa untuk menggunakan suaranya yang terganggu oleh sistem
error’.
Hal ini tentu saja bukan hal yang baik untuk
dibanggakan. PEMIRA ONLINE yang dikoar-koarkan ternyata justru membuat masalah yang lebih rumit
daripada sistem pemilihan konvensional dengan cara dicoblos. Bukan bermaksud
apa-apa, tetapi jika dibandingkan dengan sistem pemungutan suara dengan sistem
pencoblosan seperti yang dilakukan kpu+ppu pemira ka hima 2013 pgsd, pemira
dengan sistem mencoblos justru selesai dan melayani lebih banyak, bahkan dengan
jangka waktu yang lebih singkat dan tanpa injury
time.
PEMIRA konvensional dengan sistem
datang-mencoblos-keluar tak perlu menunggu lama hanya untuk mendaftar. Pemilih
tinggal menunjukkan KTM dan langsung dipersilahkan menuju bilik suara. Antrian
juga terjadi, tetapi tidak sepanjang dan se-melelahkan sistem PEMIRA dengan
pengeklikan yang terhadang sistem yang error tanpa bisa diramalkan kapan pulih
kembali. PEMIRA konvensional juga menawarkan transparansi yang lebih dipercaya,
sebab ada bukti fisik berupa surat suara yang bisa dikroscek sewaktu-waktu,
dengan tingkat kecurangan yang jauh lebih kecil dibanding sistem pemira online
yang mahasiswa pada umumnya tidak tahu-menahu cara kerjanya.
Hal lain yang membuat saya kecewa
adalah ketika ada beberapa mahasiswa PGSD yang mengungkapkan kesan-kesan dan
keluhannya mengenai sistem pemira online ini di grup BEM KM, beberapa oknum
‘atasan’ justru menyudutkan mereka dengan alasan kalau IPB saja mempelajari
sistem PEMIRA Online milik UNNES, kok
mereka malah menghujat sistem bertekhnologi tinggi ini.
Bukannya kami tidak bangga karena
kampus kami mengembangkan tekhnologi sehingga menarik perhatian dari universitas lain, tapi justru
karena inilah bukti kepedulian kami. Inilah bukti bahwa kami tetap ingin ambil
bagian dalam usaha kemajuan kampus ini. Kami bangga dengan sistem online, tapi
kita memang masih perlu banyak berbenah. Jangan sampai sistem PEMIRA Online
yang kita banggakan justru berujung pada banyaknya mahasiswa yang malas
melakukan pemungutan suara. Jangan sampai tekhnologi yang kita banggakan justru
berakhir dengan keapatisan mahasiswa
untuk turut serta dalam pesta demokrasi kampusnya. Banyak solusi yang
mungkin bisa kita lakukan untuk memperbaikinya, mungkin dengan merubah sistem
pengeklikan yang ‘one day’ menjadi bertahap, atau dengan memperbaiki sistem
operasinya.
Kami angkat bicara karena kami
bagian dari pesta demokrasi yang peduli akan masa depan kampus kami.
HIDUP MAHASISWA!
Oleh : Kharissa Widya Kresna











Selamat berkarya kawan.
BalasHapusTerimakasih mbak ! :D
BalasHapus