Jumat, 14 Desember 2012

MENYOAL SISTEM ERROR PEMIRA ONLINE

Filled under: ,

Hari itu, Rabu, 13 Desember 2012, hiruk-pikuk kegiatan mahasiswa yang lain dari biasanya terlihat di lobi kantor dosen PGSD FIP UNNES. Antrian panjang terlihat mengganggu mobilisasi dosen menuju ruang kuliah, dan suara riuh rendah keluhan mahasiswa terdengar dimana-mana.

Rata-rata mahasiswa PGSD FIP UNNES ini mengeluhkan sistem pengeklikan untuk PEMIRA PRESIDEN BEM KM UNNES 2013 yang sedang mengalami server down.

Terlintas dipikiran saya, kalau antusiasme warga PGSD yang luar biasa ini seakan tidak sebanding dengan persiapan PPU PEMIRA BEM KM ini. Terbukti, jika mengingat jumlah mahasiswa PGSD yang jauh lebih banyak dibandingkan jurusan lain se-UNNES dan antusiasme-nya dalam mengikuti kegiatan kampus yang sudah tersohor ini tidak diimbangi oleh sarana dan prasarana yang memadai oleh PPU. 

Antrian panjang terjadi karena hanya ada dua buah laptop dan 4 buah bilik suara untuk 1100-an total pemilih di kampus PGSD. Selain itu, sistem yang sering down semakin membuat mahasiswa harus antri dan berdiri lebih lama. Padahal, hari itu aktifitas perkuliahan sangat padat.

Seorang teman terlihat keluar antrian dengan raut muka yang cemberut. Ketika saya tanya, dia menuturkan kalau dia ada kuliah dan tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi. Bahkan, ada mahasiswa yang sudah antri sejak jam 10 pagi dan baru bisa mengeklik pada jam 3 sore. Saya saja yang sudah antri berdiri selama dua jam pada akhirnya justru batal masuk bilik suara karena ada kuliah. Menyesakkan sekali. Sayangnya, bukan hanya saya dan dua orang teman saya yang gagal mengeklik, tetapi banyak sekali yang juga tak melakukan pemungutan suara. Alasan mereka sama : Malas mengantri.

Dampak lain yang timbul adalah perpanjangan waktu pemungutan suara. Jadwal pemungutan suara yang awalnya dialokasikan mulai dari jam 08.00-13.00 WIB diperpanjang hingga pukul 14.00 WIB, kemudian diperpanjang lagi hingga pukul 15.30 WIB. Jiwa sarkasme saya seketika muncul : ‘mungkin hal ini dilakukan dengan alasan untuk ‘menebus’ tingginya animo mahasiswa untuk menggunakan suaranya yang terganggu oleh sistem error’.

 Hal ini tentu saja bukan hal yang baik untuk dibanggakan. PEMIRA ONLINE yang dikoar-koarkan ternyata  justru membuat masalah yang lebih rumit daripada sistem pemilihan konvensional dengan cara dicoblos. Bukan bermaksud apa-apa, tetapi jika dibandingkan dengan sistem pemungutan suara dengan sistem pencoblosan seperti yang dilakukan kpu+ppu pemira ka hima 2013 pgsd, pemira dengan sistem mencoblos justru selesai dan melayani lebih banyak, bahkan dengan jangka waktu yang lebih singkat dan tanpa injury time.

PEMIRA konvensional dengan sistem datang-mencoblos-keluar tak perlu menunggu lama hanya untuk mendaftar. Pemilih tinggal menunjukkan KTM dan langsung dipersilahkan menuju bilik suara. Antrian juga terjadi, tetapi tidak sepanjang dan se-melelahkan sistem PEMIRA dengan pengeklikan yang terhadang sistem yang error tanpa bisa diramalkan kapan pulih kembali. PEMIRA konvensional juga menawarkan transparansi yang lebih dipercaya, sebab ada bukti fisik berupa surat suara yang bisa dikroscek sewaktu-waktu, dengan tingkat kecurangan yang jauh lebih kecil dibanding sistem pemira online yang mahasiswa pada umumnya tidak tahu-menahu cara kerjanya.

Hal lain yang membuat saya kecewa adalah ketika ada beberapa mahasiswa PGSD yang mengungkapkan kesan-kesan dan keluhannya mengenai sistem pemira online ini di grup BEM KM, beberapa oknum ‘atasan’ justru menyudutkan mereka dengan alasan kalau IPB saja mempelajari sistem PEMIRA Online milik UNNES, kok mereka malah menghujat sistem bertekhnologi tinggi ini.

Bukannya kami tidak bangga karena kampus kami mengembangkan tekhnologi sehingga menarik  perhatian dari universitas lain, tapi justru karena inilah bukti kepedulian kami. Inilah bukti bahwa kami tetap ingin ambil bagian dalam usaha kemajuan kampus ini. Kami bangga dengan sistem online, tapi kita memang masih perlu banyak berbenah. Jangan sampai sistem PEMIRA Online yang kita banggakan justru berujung pada banyaknya mahasiswa yang malas melakukan pemungutan suara. Jangan sampai tekhnologi yang kita banggakan justru berakhir dengan keapatisan mahasiswa  untuk turut serta dalam pesta demokrasi kampusnya. Banyak solusi yang mungkin bisa kita lakukan untuk memperbaikinya, mungkin dengan merubah sistem pengeklikan yang ‘one day’ menjadi bertahap, atau dengan memperbaiki sistem operasinya. 
Kami angkat bicara karena kami bagian dari pesta demokrasi yang peduli akan masa depan kampus kami.

HIDUP MAHASISWA!




Oleh : Kharissa Widya Kresna

2 komentar: