Tampilkan postingan dengan label april. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label april. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Ibu Kita, Guru Kita

Filled under: ,


          “Ibu, aku ingin jadi seperti ibu kartini!”, teriak Deha, siswi kelas 1 SD tiba-tiba kepada u gurunya.
“Kenapa kamu ingin seperti ibu kartini Deha?”, tanya ibu guru.
“Supaya teman-teman Deha pintar-pintar semua buk, Deha akan menjadi guru yang baik seperti ibu kartini.”
“Jadi, sebenarnya kamu ingin jadi seperti ibu kartini atau guru Deha?”, selidik bu guru yang mulai tak sabar menghadapi siswanya yang bawel ini.
“Kata ibuku, ibu kartini punya sekolah, beliau mengajarkan cara membaca kepada para wanita. Deha ingin seperti ibu kartini bu. Yang bisa mengajarkan baca tulis kepada semua orang. Termasuk teman-teman Deha yang belum bisa membaca buk. Kenapa ibu guru tidak bisa seperti ibu kartini bu? Apa ibu benci kepada kami?”
Dan, si ibu guru pun tersentak akan kesadaran dan terkejut akan kenyataan banyak siswanya yang belum lancar membaca, sedang selama ini ia hanya santai tanpa menanggung tanggung jawab yang memang ia punyai. Setahun ia menjadi guru, baru kali ini ia mendapat sentakan dari siswanya sendiri. Mengajar tak pernah dari hati, hatinya pun bertanya apakah pantas perilakunya yang seperti ini disebut dengan mengajar?
Pertanyaannya di sini adalah mengapa teman-teman Deha belum bisa membaca. Adalah si ibu guru yang sering jarang masuk serta setengah hati dalam mengajar siswanya. Pada pelajaran pertama belajar  membaca saat itu pun si bu guru hanya menyetel sebuah tayangan, yang biasa dalam dunia pendidikan kita sebut dengan video pembelajaran.

Kisah di atas hanya sekelumit cerita ironi. Si Deha yang hanya anak baru sekolah berumur 6 tahun pun begitu cerdas menyikapi perjuangan R.A Kartini. Pendidikan informalnya pun dijaga dengan baik oleh orang tuanya. Termasuk mengenai kisah patriotisme keteladanan ibu kartini yang Deha mengenalnya langsung, dari cerita yang terlontar dari bibir ibunya. Dari kisah ibu kartini yang diceritakan oleh ibunya, Deha dengan potensi cerdasnya mulai menyadari betapa selama ini ibu kartini berjuang agar anak perempuan dapat bersekolah. Sedang di sekolah, si ibu guru hanya memutar video, tak pernah mengajar, memberi PR, maupun sekadar memeriksa buku catatannya. Deha dengan semangat besar yang kontras dengan tubuh mungilnya, tak mengerti mengapa gurunya di sekolah tak meniru perjuangan ibu kartini.
Mari kita renungi intermezzo yang ironi dan terasa di kehidupan nyata. Betapa tidak, orientasi para pendidik di era globalisasi, entah era apa yang pantas disebutkan demi fenomena ini. Tak jelas di dasari oleh apa. Kalau pemerintah bilang ini zaman globalisasi di mana tak ada lagi batas antar negara di dunia ini, maka kita hanya bisa menyebutnya sebagai zaman yang ditelanjangi. Bagaimana tidak, tanpa kita sadari, perlahan negara kita akan kembali terjajah bangsa koloni. Siapa yang bisa menjamin kita tidak ditelanjangi demi melihat budaya, moral, nilai, serta norma bangsa Indonesia satu persatu dicopot dan dibuang. Di lupakan dan hanya menjadi catatan usang dalam buku pelajaran sejarah. Ibu Kartini, pahlawan bangsa, yang tak hanya berperan dalam memperjuangkan persamaan gender, juga mengajarkan kepada kita khususnya pada banyak wanita bahwa wanita tak hanya berwenang di kantor yang bernama dapur dan rumah tangga saja. Akan tetapi, wanita juga punya hak untuk berperan di luar. Kartini, yang ingin mendirikan sekolah, dengan masih memegang rasa sopan dan hormatnya kepada sang suami (R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat) tak segan meminta izin kepada suami demi keinginannya mendirikan sekolah. Inilah nilai luhur yang diajarkan kepada kita para wanita khususnya dan lelaki pada umunya. Betapa indahnya pelajaran yang dapat kita teladani. Kartini dengan semangat meggebu-gebunya ingin mencerdaskan teman-teman perempuannya, berkeinginan akan mendirikan sekolah. Akan tetapi tak lupa pula akan statusnya sebagai seorang istri, ia pun meminta izin kepada sang suami terlebih dahulu untuk mendirikan sekolah. Sang suami yang notabene tak hanya beristrikan ibu Kartini, dengan senang hati mempersembahkan bangunan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
 Ini juga menjadi pelajaran bagi kaum pria. Kaum pria juga tak bisa seenaknya memperlakukan wanita dengan seenak hatinya. Bahwa kaum wanita juga sama derajatnya dengan kaum pria, maka dari R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat para pria bisa belajar untuk menghormati dan memperhatikan kaum wanita. Dengan rasa penuh kasih, meskipun kasih sayangnya tak hanya untuk Kartini, Bupati Rembang ini pun memberi kebebasan kepada istri mudanya itu untuk mendirikan sekolah wanita.
Maka dari kisah patriotik ibu Kartini ini, apalagi yang bisa meragukan kita untuk tetap memperjuangkan nilai-nilai positif yang dijunjung tinggi ibu Kartini untuk tetap memperjuangkan hak-hak para wanita di bumi pertiwi. Baik wanita maupun pria juga berhak untuk sekolah sampai tingkat yang diinginkan. Bukankah dalam agama juga diwajibkan untuk mencari ilmu sampai ke negeri China.
Untuk para bapak dan ibu guru, maupun calon bapak dan ibu guru, maka niat apa yang mendasari engkau untuk menjadi seorang guru yang mempunyai mandat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita patut malu kepada Deha si gadis kecil tadi, jika ia yang masih kecil saja kagum pada Ibu Kartini dan ingin melanjutkan perjuangan Ibu kita ini, maka sebagai guru bangsa yang harusnya menjadi panutan bagi siswa-siswinya apakah cukup hanya dengan memutarkan video pembelajaran dan menyuruh siswanya menonton tanpa tahu harus berbuat apa, inikah yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanpa jasa?
Bercermin dari perjuangan Ibu Kartini, tidak inginkah kita untuk melangkah dengan pasti, demi anak didik generasi bangsa telaten membuka cakrawala dunia kepada anak-anak yang buta. Yang butuh obat untuk membuka pengilhatannya untuk dapat memandang dunia lebih jauh lagi. Obat itu, telah dengan susah payah oleh Ibu Kartini untuk diramu bagi anak perempuan bangsa Indonesia. Maka tugas para Guru adalah mempertahankan resep ramuan mujarab itu baik untuk anak lelaki maupun anak perempuan agar semua anak bangsa sembuh dari kebutaan ilmu.


Hilyatifa Dafina Putri

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES11/21/2012 12:21:00 PM

Jumat, 11 Mei 2012

Deretan 10 Kartini Masa Kini

Filled under: ,




KARTINI yang memperjuangkan nasib wanita biasanya identik dengan kebaya dan kain panjang. Tapi di zaman modern ini, penampilan itu seolah tak perlu lagi. Banyak perempuan yang berbicara lewat sosok-sosok pahlawan wanita era masa kini. Kiprah mereka pun tak kalah dengan Kartini maupun Srikandi.

Berikut 10 deret nama wanita masa kini yang patut diacungi jempol:

1. Oprah Winfrey

Wanita satu ini bakal membuat siapapun, laki-laki maupun perempuan, terkagum-kagum dengan dedikasinya di dunia hiburan dan sosial. Dengan acara TV yang disiarkannya selama puluhan tahun, Oprah tak hanya berhasil meraup kesuksesan pribadi. Jutaan orang di seluruh dunia telah dibantunya agar dapat hidup lebih baik.

2. Lady GaGa
Penyanyi nyentrik ini juga pantas mendapat seribu jempol karena keunikannya dan kepercayaannya menjadi diri sendiri. Dengan gayanya yang berbeda, GaGa berhasil membuktikan bahwa tak ada yang mustahil untuk dijalani selama kita bekerja keras dan serius dengan apa yang kita sukai. Isn't what we need for?

3. Britney Spears
Mantan bintang remaja ini sekali lagi bisa membuktikan pada dunia bahwa dirinya dapat berdiri dengan tegak setelah hancur lebur dalam karir maupun rumah tangganya. Setelah depresi akut yang dialaminya, Britney hadir dan merebut perhatian fansnya kembali lewat lagu dan album yang sangat sukses di pasaran. Jadi salah satu bukti bahwa kegagalan bukan akhir dunia kan?

4. Angelina Jolie
Ibu 6 orang anak dan 3 diantaranya diadopsi dari belahan dunia yang kekurangan, predikat aktris dengan kaliber Oscar, karir sutradara yang baru dimulai, kekasih tampan dan sukses, serta kepedulian sosial yang tinggi. Apa lagi yang kurang dari sosok Angelina Jolie?

5. Beyonce Knowles
Karir cemerlang tak harus dengan sensasi negatif segudang. Inilah gambaran sosok Beyonce, yang mampu meraih kesuksesan dengan bakat menyanyi dan kecantikan yang dimilikinya. Tanpa ba-bi-bu, lagu-lagu Beyonce sangat dicintai dan melesat ke puncak tangga lagu, tanpa harus dibumbui kontroversi berkepanjangan.

Sebagai istri, Beyonce juga mendukung langkah sang suami dan bergabung dalam yayasan yang didirikannya untuk kegiatan amal dan sosial.

6. Ratna Sarumpaet

Sosok wanita aktivis pembela hak perempuan yang juga bergelut di dunia teater ini patut menjadi panutan. Tak pandang bulu, artis ataupun bukan, Ratna selalu siap sedia membela kepentingan para perempuan di masa modern.

7. Atiqah Hasiholan
Aktris cantik yang berdedikasi tinggi di dunia film ini lekat dengan film-film mendidik yang sarat pesan. Dengan kecantikan dan kepandaian yang terpancar darinya, tak salah jika wanita yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial ini menyandang brand ambassador sebuah produk kecantikan wanita.

8. Angelina Sondakh

Gelar Putri Indonesia sepertinya benar-benar pas disandang wanita ini. Bergelut dalam dunia politik yang didominasi pria, Angie tak lantas rendah diri.

Bersama almarhum suami Adjie Massaid, Angie lantang menyampaikan suaranya demi kebaikan rakyat. Ketegaran Angie sebagai wanita dan ibu juga tak pantas diabaikan, sepeninggal sang suami yang meninggal mendadak.

9. Melanie Subono

Penyanyi satu ini memberi definisi baru pada kata feminin. Tak harus mengenakan gaun, Melanie menunjukkan sisi kewanitaannya dengan bersikap kritis pada keadaan di sekitarnya. Genre rock yang didalaminya pun tak lantas menjadikannya 'kurang'. Melanie justru menunjukkan kelebihannya sebagai seorang wanita modern yang berani dan lugas.

10.Mira Lesmana

Mencerdaskan dan membuka mata dunia lewat film adalah ambisi wanita yang berprofesi sebagai sutradara ini. Walau tidak bergenre pop, namun film-filmnya mampu membuktikan diri dengan minat pemirsa dan angka penjualan yang tinggi. Siapa bilang pendidikan harus membosankan?

So, kalian-kalian para Kartini modern, merasa sudah pantas berada dalam daftar ini? Terus maju dan berprestasi! (kpl/***)

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES5/11/2012 12:53:00 PM

Jumat, 13 April 2012

Kartiniku di Belanda

Filled under: ,


Belanda yang terkenal dengan kincir angin dan bunga tulipnya memang tidak memperingati  hari Kartini tanggal 21 April, seperti di Indonesia. Namun demikian, Belanda menghargai Kartini sebagai pejuang hak-hak perempuan. Bahkan beberapa kota di Belanda memiliki nama jalan R.A . Kartini.

Di Utrecht terdapat Jalan R.A. Kartini atau Kartinistraat yang terletak di kawasan tenang dengan perumahan apik dan kebanyakan dihuni kalangan menengah. Jalan utama ini berbentuk ‘U’ yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Chez Geuvara, Agostinho Neto. Utrecht merupakan salah satu kota terpenting di Belanda yang memiliki posisi sentral dan merupakan tuan rumah Universitas Utrecht yaitu salah satu Universitas Belanda yang terbesar

Di Venlo Belanda Selatan, RA Kartinistraat berbentuk ‘O’ di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut. Venlo ini merupakan salah satu kota di Belanda

Amsterdam, ibukota Belanda, juga mengabadikan nama penjuang hak-hak perempuan Jawa di abad 17 itu. Wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards. Paling menarik mengamati letak jalan Kartini di Haarlem. Di sana jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, dan Sutan Sjahrir.


Posted By Jurnalistik PGSD UNNES4/13/2012 12:37:00 PM

KARTINI SAJA TIDAK CUKUP (Mempertanyakan jiwa muda para kaum muda)

Filled under: , ,


Oleh Juita Ayu Nilamsari

...Bulan yang lalu, saya baru saja 20 tahun. Aneh, bahwa ketika berumur 16 tahun, saya memandang diri saya tua sekali dan kerap kali berhati murung. Dan sekarang, setelah saya melampaui umur 20 tahun, saya merasa muda sekali dan penuh gairah hidup dan... juga suka berjuang.
Panggil saya Kartini saja, begitu nama saya...

(Surat pertama Kartini kepada Estelle Zeehandelaar 25 Mei 1899)

Sejak meninggalkan sekolah pada umur 12 tahun , Kartini, seorang perempuan Jawa yang lahir di Jepara, 21 April 1879 itu merasa tersiksa. Dia harus menjalani masa pingitan di dalam sangkar sempit bernama rumah, dengan dikelilingi empat tembok besar. Dia merasa terkurung di dalam kehidupan yang gelap dan kelam. Kehampaannya tidak sekedar itu.  Adat istiadat tidak mengijinkan Kartini bebas berkomunikasi dengan dunia luar, dia hanya menunggu seorang pria pilihan ayahnya, yang tidak ia kenal dan akan menikahinya. Ayahnya juga menolak keinginan Kartini untuk melanjutkan sekolah dan dia mulai terganggu dengan pemikiran-pemikiran feodal Belanda. Sejak itu, jiwa muda Kartini meletup-letup.
Kartini membaca berbagai jenis buku, mengamati keadaan negerinya yang miskin kebebasan, mengkaji peradaban modern Eropa, sekaligus memikirkan nasib perempuan bangsanya. Kartini menuangkan keresahannya melalui surat dan tulisan-tulisannya di majalah De Hollandsche Lelie. Jiwa muda Kartini semakin bergejolak, dia bahkan mendirikan sekolah Kartini dan melakukan berbagai perubahan.
Kartini yang cerdas dan berjiwa muda telah memberontak ketidakadilan dengan begitu menawan. Kritikannya tepat sasaran, sesuai dengan realita. Tetapi, bagaimana dengan kaum muda jaman sekarang ? Sudahkah memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsanya ? Atau hanya melawan dan membangkang ? Atau memilih bersikap pasif ?
Sebenarnya sudah cukup banyak pemuda Indonesia yang berprestasi dan inspiratif, menciptakan berbagai penemuan, terjun ke dalam dunia sosial, melakukan kritik tepat sasaran terhadap pemerintah, dan melakukan tindakan-tindakan terpuji lainnya. Generasi muda seperti itulah yang jiwa mudanya telah hidup. Namun tidak sedikit pula kaum muda yang berkelakuan sebaliknya, misalnya memakai narkoba, merusak lingkungan, melakukan kekerasan, dan pasif terhadap masalah sosial.
Menyandang peran sebagai penentu nasib bangsa, penyampai kebenaran, dan agen perubahan, kaum muda seharusnya sadar bahwa dia tidak hanya dibutuhkan dapat bergerak untuk saat ini dan untuk dirinya sendiri, tetapi juga berjuang untuk masa depan dan kehidupan banyak orang. Kaum muda harus bergerak, melakukan, bertindak, dan mewujudkan perubahan.
Semangat jiwa muda harus bercokol kuat dalam diri setiap pemuda dan terus tumbuh hingga mengakar kuat, membumbung tinggi, dan membawa manfaat bagi bangsa.  Kaum muda harus berfikiran luas dan berkeinginan besar untuk menciptakan kebermanfaatan dalam berbagai sektor kehidupan sesuai background pendidikan, keberbakatan, dan minat masing-masing. Jika R.A. Kartini saja yang bergerak, itu tidak cukup!
...Kami akan menggoncangkannya, Ibu sayang, dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh cuma satu butir batu saja, maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia... (Surat Kartini kepada Ny. MCE Ovink-Soer awal tahun1900)

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES4/13/2012 12:34:00 PM

MENJADI SOSOK KARTINI

Filled under: ,


 Di Pakistan, kita mengenal Benazir Bhutto yang berulang kali dipenjara dan dilengserkan dari jabatannya sebagai perdana menteri dalam dunia perpolitikan. Aung San Suu Kyi yang demi menegakkan demokrasi dan HAM di bumi Myanmar, rela dipenjara selama 21 tahun. Di negara kita sendiri telah tercatat dalam sejarah, seorang wanita yang membawa pengaruh besar dalam dunia pendidikan dan emansipasi wanita, R.A. Kartini. Semua wanita itu membawa pengaruh besar pada bangsanya. Mereka berjuang dan berkorban demi memperjuangkan cita-citanya.
Begitu berpengaruhnya sosok Kartini baik di dalam negeri maupun luar negeri hingga namanya pun turut diabadikan sebagai nama jalan di Utrecth, Belanda yaitu Kartinistraat. Namun, apa sejatinya yang dapat kita teladani dari R.A. Kartini?
Emansipasi wanita, itulah yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini di masa penjajahan. Kartini berkorban dengan darah dan air mata. Tak banyak yang tahu atau peduli manakala hatinya kesakitan, menangis tersedu, saat ia tak boleh sekolah, semata-mata karena seorang perempuan. Ia dipingit, seperti banyak perempuan lain saat itu. Itulah pengorbanan. Padahal mimpi dan cita-citanya bersekolah adalah untuk kemajuan bangsa dan kemajuan perempan, seperti yang tertulis dalam suratnya, “Dan tidak hanya untuk perempuan saja, tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya pengajaran kepada anak-anak merupakan berkah?”
Sayangnya, emansipasi wanita/perempuan kerap disalahartikan oleh sebagian dari kita, yaitu dengan mengejar karir setinggi langit, kesetaraan jender yang kebablasan, bahkan dengan mengorbankan kodratnya sebagai perempuan. Padahal sesungguhnya apa yang diperoleh dari itu semua terlebih mengorbankan kodratnya sebagai perempuan adalah kekalahan bagi perempuan yang paling telak.
Emansipasi yang disuarakan oleh Kartini, sebenarnya lebih menekankan pada tuntutan agar perempuan saat itu memperoleh pendidikan yang memadai, menaikkan derajat perempuan yang kurang dihargai pada masyarakat Jawa, dan kebebasan dalam berpendapat dan mengeluarkan pkiran. Pada masa itu tuntutan tersebut khususnya pada masyarakat Jawa adalah lompatan besar bagi perempuan yang disuarakan oleh perempuan.
Kartini mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan kekuatan untuk menjalaninya, menjadi manusia mandiri. Semangat, kerja keras, dan pantang menyerah dengan keadaan, juga dapat kita teladani dari perjuangan Kartini.
Saat ini sudah banyak bidang yang tidak lagi hanya dikuasai oleh laki-laki, tetapi juga para perempuan. Perempuan bisa menjadi menjadi pebisnis, penulis, ilmuwan bahkan politisi sekalipun. Banyak contoh wanita-wanita hebat yang mampu bersinar dibidangnya masing-masing seperti Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan, Presiden wanita pertama kita, Megawati Soekarno Putri, ataupun Helvy Tiana Rossa yang berjuang lewat karya-karya sastranya. Kita pun bisa seperti mereka karena pada dasarnya setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Yang terpenting bagaimana usaha kita untuk berkembang dan mewujudkan semua impian kita. Ya, kita bisa menjadi Kartini!
"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” (Kartini - Habis Gelap Terbitlah Terang)


Posted By Jurnalistik PGSD UNNES4/13/2012 12:33:00 PM