Jumat, 13 April 2012

KARTINI SAJA TIDAK CUKUP (Mempertanyakan jiwa muda para kaum muda)

Filled under: , ,


Oleh Juita Ayu Nilamsari

...Bulan yang lalu, saya baru saja 20 tahun. Aneh, bahwa ketika berumur 16 tahun, saya memandang diri saya tua sekali dan kerap kali berhati murung. Dan sekarang, setelah saya melampaui umur 20 tahun, saya merasa muda sekali dan penuh gairah hidup dan... juga suka berjuang.
Panggil saya Kartini saja, begitu nama saya...

(Surat pertama Kartini kepada Estelle Zeehandelaar 25 Mei 1899)

Sejak meninggalkan sekolah pada umur 12 tahun , Kartini, seorang perempuan Jawa yang lahir di Jepara, 21 April 1879 itu merasa tersiksa. Dia harus menjalani masa pingitan di dalam sangkar sempit bernama rumah, dengan dikelilingi empat tembok besar. Dia merasa terkurung di dalam kehidupan yang gelap dan kelam. Kehampaannya tidak sekedar itu.  Adat istiadat tidak mengijinkan Kartini bebas berkomunikasi dengan dunia luar, dia hanya menunggu seorang pria pilihan ayahnya, yang tidak ia kenal dan akan menikahinya. Ayahnya juga menolak keinginan Kartini untuk melanjutkan sekolah dan dia mulai terganggu dengan pemikiran-pemikiran feodal Belanda. Sejak itu, jiwa muda Kartini meletup-letup.
Kartini membaca berbagai jenis buku, mengamati keadaan negerinya yang miskin kebebasan, mengkaji peradaban modern Eropa, sekaligus memikirkan nasib perempuan bangsanya. Kartini menuangkan keresahannya melalui surat dan tulisan-tulisannya di majalah De Hollandsche Lelie. Jiwa muda Kartini semakin bergejolak, dia bahkan mendirikan sekolah Kartini dan melakukan berbagai perubahan.
Kartini yang cerdas dan berjiwa muda telah memberontak ketidakadilan dengan begitu menawan. Kritikannya tepat sasaran, sesuai dengan realita. Tetapi, bagaimana dengan kaum muda jaman sekarang ? Sudahkah memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsanya ? Atau hanya melawan dan membangkang ? Atau memilih bersikap pasif ?
Sebenarnya sudah cukup banyak pemuda Indonesia yang berprestasi dan inspiratif, menciptakan berbagai penemuan, terjun ke dalam dunia sosial, melakukan kritik tepat sasaran terhadap pemerintah, dan melakukan tindakan-tindakan terpuji lainnya. Generasi muda seperti itulah yang jiwa mudanya telah hidup. Namun tidak sedikit pula kaum muda yang berkelakuan sebaliknya, misalnya memakai narkoba, merusak lingkungan, melakukan kekerasan, dan pasif terhadap masalah sosial.
Menyandang peran sebagai penentu nasib bangsa, penyampai kebenaran, dan agen perubahan, kaum muda seharusnya sadar bahwa dia tidak hanya dibutuhkan dapat bergerak untuk saat ini dan untuk dirinya sendiri, tetapi juga berjuang untuk masa depan dan kehidupan banyak orang. Kaum muda harus bergerak, melakukan, bertindak, dan mewujudkan perubahan.
Semangat jiwa muda harus bercokol kuat dalam diri setiap pemuda dan terus tumbuh hingga mengakar kuat, membumbung tinggi, dan membawa manfaat bagi bangsa.  Kaum muda harus berfikiran luas dan berkeinginan besar untuk menciptakan kebermanfaatan dalam berbagai sektor kehidupan sesuai background pendidikan, keberbakatan, dan minat masing-masing. Jika R.A. Kartini saja yang bergerak, itu tidak cukup!
...Kami akan menggoncangkannya, Ibu sayang, dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh cuma satu butir batu saja, maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia... (Surat Kartini kepada Ny. MCE Ovink-Soer awal tahun1900)

0 komentar:

Posting Komentar