Oleh Juita Ayu Nilamsari
...Bulan yang lalu, saya baru saja 20 tahun. Aneh, bahwa ketika berumur 16 tahun, saya memandang diri saya tua sekali dan kerap kali berhati murung. Dan sekarang, setelah saya melampaui umur 20 tahun, saya merasa muda sekali dan penuh gairah hidup dan... juga suka berjuang.
Panggil saya Kartini saja, begitu nama saya...
(Surat pertama Kartini kepada Estelle Zeehandelaar 25 Mei 1899)
Sejak
meninggalkan sekolah pada umur 12 tahun , Kartini, seorang perempuan Jawa yang
lahir di Jepara, 21 April 1879 itu merasa tersiksa. Dia
harus menjalani masa pingitan di dalam sangkar sempit bernama rumah, dengan
dikelilingi empat tembok besar. Dia merasa terkurung di dalam kehidupan yang
gelap dan kelam. Kehampaannya tidak sekedar itu. Adat istiadat tidak mengijinkan Kartini bebas
berkomunikasi dengan dunia luar, dia hanya menunggu seorang pria pilihan
ayahnya, yang tidak ia kenal dan akan menikahinya. Ayahnya juga menolak keinginan
Kartini untuk melanjutkan sekolah dan dia mulai terganggu dengan
pemikiran-pemikiran feodal Belanda. Sejak itu, jiwa muda Kartini meletup-letup.
Kartini
membaca berbagai jenis buku, mengamati keadaan negerinya yang miskin kebebasan,
mengkaji peradaban modern Eropa, sekaligus memikirkan nasib perempuan
bangsanya. Kartini menuangkan keresahannya melalui surat dan tulisan-tulisannya
di majalah De Hollandsche Lelie. Jiwa muda Kartini semakin bergejolak,
dia bahkan mendirikan sekolah Kartini dan melakukan berbagai perubahan.
Kartini
yang cerdas dan berjiwa muda telah memberontak ketidakadilan dengan begitu
menawan. Kritikannya tepat sasaran, sesuai dengan realita. Tetapi, bagaimana
dengan kaum muda jaman sekarang ? Sudahkah memberikan kontribusi untuk kemajuan
bangsanya ? Atau hanya melawan dan membangkang ? Atau memilih bersikap pasif ?
Sebenarnya
sudah cukup banyak pemuda Indonesia yang berprestasi dan inspiratif,
menciptakan berbagai penemuan, terjun ke dalam dunia sosial, melakukan kritik
tepat sasaran terhadap pemerintah, dan melakukan tindakan-tindakan terpuji
lainnya. Generasi muda seperti itulah yang jiwa mudanya telah hidup. Namun
tidak sedikit pula kaum muda yang berkelakuan sebaliknya, misalnya memakai
narkoba, merusak lingkungan, melakukan kekerasan, dan pasif terhadap masalah
sosial.
Menyandang
peran sebagai penentu nasib bangsa, penyampai kebenaran, dan agen perubahan,
kaum muda seharusnya sadar bahwa dia tidak hanya dibutuhkan dapat bergerak
untuk saat ini dan untuk dirinya sendiri, tetapi juga berjuang untuk masa depan
dan kehidupan banyak orang. Kaum muda
harus bergerak, melakukan, bertindak, dan mewujudkan perubahan.
Semangat
jiwa muda harus bercokol kuat dalam diri setiap pemuda dan terus tumbuh hingga
mengakar kuat, membumbung tinggi, dan membawa manfaat bagi bangsa. Kaum muda harus berfikiran luas dan
berkeinginan besar untuk menciptakan kebermanfaatan dalam berbagai sektor
kehidupan sesuai background
pendidikan, keberbakatan, dan minat masing-masing. Jika R.A. Kartini saja yang
bergerak, itu tidak cukup!
...Kami akan menggoncangkannya, Ibu sayang, dengan segala
kekuatan walaupun yang akan runtuh cuma satu butir batu saja, maka kami akan
merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia...
(Surat Kartini kepada Ny. MCE Ovink-Soer awal tahun1900)











0 komentar:
Posting Komentar