Di Pakistan, kita mengenal Benazir Bhutto yang
berulang kali dipenjara dan dilengserkan dari jabatannya sebagai perdana
menteri dalam dunia perpolitikan. Aung San Suu Kyi yang demi menegakkan
demokrasi dan HAM di bumi Myanmar, rela dipenjara selama 21 tahun. Di negara
kita sendiri telah tercatat dalam sejarah, seorang wanita yang membawa pengaruh
besar dalam dunia pendidikan dan emansipasi wanita, R.A. Kartini. Semua wanita
itu membawa pengaruh besar pada bangsanya. Mereka berjuang dan berkorban demi
memperjuangkan cita-citanya.
Begitu berpengaruhnya sosok Kartini baik di dalam
negeri maupun luar negeri hingga namanya pun turut diabadikan sebagai nama
jalan di Utrecth, Belanda yaitu Kartinistraat. Namun, apa sejatinya yang dapat kita teladani dari R.A. Kartini?
Emansipasi wanita, itulah yang diperjuangkan oleh
R.A. Kartini di masa penjajahan. Kartini berkorban
dengan darah dan air mata. Tak banyak yang tahu atau peduli manakala hatinya
kesakitan, menangis tersedu, saat ia tak boleh sekolah, semata-mata karena
seorang perempuan. Ia dipingit, seperti banyak perempuan lain saat itu. Itulah
pengorbanan. Padahal mimpi dan cita-citanya bersekolah adalah untuk kemajuan
bangsa dan kemajuan perempan, seperti yang tertulis dalam suratnya, “Dan tidak hanya untuk perempuan saja,
tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya pengajaran kepada anak-anak
merupakan berkah?”
Sayangnya, emansipasi wanita/perempuan kerap disalahartikan oleh sebagian
dari kita, yaitu dengan mengejar karir setinggi langit, kesetaraan jender yang
kebablasan, bahkan dengan mengorbankan kodratnya sebagai perempuan. Padahal
sesungguhnya apa yang diperoleh dari itu semua terlebih mengorbankan kodratnya
sebagai perempuan adalah kekalahan bagi perempuan yang paling telak.
Emansipasi yang disuarakan oleh Kartini, sebenarnya lebih menekankan pada
tuntutan agar perempuan saat itu memperoleh pendidikan yang memadai, menaikkan
derajat perempuan yang kurang dihargai pada masyarakat Jawa, dan kebebasan
dalam berpendapat dan mengeluarkan pkiran. Pada masa itu tuntutan tersebut
khususnya pada masyarakat Jawa adalah lompatan besar bagi perempuan yang
disuarakan oleh perempuan.
Kartini mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan kekuatan untuk
menjalaninya, menjadi manusia mandiri. Semangat, kerja keras, dan pantang
menyerah dengan keadaan, juga dapat kita teladani dari perjuangan Kartini.
Saat ini sudah banyak bidang yang tidak lagi hanya
dikuasai oleh laki-laki, tetapi juga para perempuan. Perempuan bisa menjadi
menjadi pebisnis, penulis, ilmuwan bahkan politisi sekalipun. Banyak contoh
wanita-wanita hebat yang mampu bersinar dibidangnya masing-masing seperti Sri
Mulyani, mantan Menteri Keuangan, Presiden wanita pertama kita, Megawati
Soekarno Putri, ataupun Helvy Tiana Rossa yang berjuang lewat karya-karya
sastranya. Kita pun bisa seperti mereka karena pada dasarnya
setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Yang terpenting bagaimana usaha
kita untuk berkembang dan mewujudkan semua impian kita. Ya, kita bisa menjadi
Kartini!
"Tiada awan
di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca.
Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia
serupa alam.” (Kartini - Habis Gelap Terbitlah Terang)











0 komentar:
Posting Komentar