Jumat, 13 April 2012

MENJADI SOSOK KARTINI

Filled under: ,


 Di Pakistan, kita mengenal Benazir Bhutto yang berulang kali dipenjara dan dilengserkan dari jabatannya sebagai perdana menteri dalam dunia perpolitikan. Aung San Suu Kyi yang demi menegakkan demokrasi dan HAM di bumi Myanmar, rela dipenjara selama 21 tahun. Di negara kita sendiri telah tercatat dalam sejarah, seorang wanita yang membawa pengaruh besar dalam dunia pendidikan dan emansipasi wanita, R.A. Kartini. Semua wanita itu membawa pengaruh besar pada bangsanya. Mereka berjuang dan berkorban demi memperjuangkan cita-citanya.
Begitu berpengaruhnya sosok Kartini baik di dalam negeri maupun luar negeri hingga namanya pun turut diabadikan sebagai nama jalan di Utrecth, Belanda yaitu Kartinistraat. Namun, apa sejatinya yang dapat kita teladani dari R.A. Kartini?
Emansipasi wanita, itulah yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini di masa penjajahan. Kartini berkorban dengan darah dan air mata. Tak banyak yang tahu atau peduli manakala hatinya kesakitan, menangis tersedu, saat ia tak boleh sekolah, semata-mata karena seorang perempuan. Ia dipingit, seperti banyak perempuan lain saat itu. Itulah pengorbanan. Padahal mimpi dan cita-citanya bersekolah adalah untuk kemajuan bangsa dan kemajuan perempan, seperti yang tertulis dalam suratnya, “Dan tidak hanya untuk perempuan saja, tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya pengajaran kepada anak-anak merupakan berkah?”
Sayangnya, emansipasi wanita/perempuan kerap disalahartikan oleh sebagian dari kita, yaitu dengan mengejar karir setinggi langit, kesetaraan jender yang kebablasan, bahkan dengan mengorbankan kodratnya sebagai perempuan. Padahal sesungguhnya apa yang diperoleh dari itu semua terlebih mengorbankan kodratnya sebagai perempuan adalah kekalahan bagi perempuan yang paling telak.
Emansipasi yang disuarakan oleh Kartini, sebenarnya lebih menekankan pada tuntutan agar perempuan saat itu memperoleh pendidikan yang memadai, menaikkan derajat perempuan yang kurang dihargai pada masyarakat Jawa, dan kebebasan dalam berpendapat dan mengeluarkan pkiran. Pada masa itu tuntutan tersebut khususnya pada masyarakat Jawa adalah lompatan besar bagi perempuan yang disuarakan oleh perempuan.
Kartini mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan kekuatan untuk menjalaninya, menjadi manusia mandiri. Semangat, kerja keras, dan pantang menyerah dengan keadaan, juga dapat kita teladani dari perjuangan Kartini.
Saat ini sudah banyak bidang yang tidak lagi hanya dikuasai oleh laki-laki, tetapi juga para perempuan. Perempuan bisa menjadi menjadi pebisnis, penulis, ilmuwan bahkan politisi sekalipun. Banyak contoh wanita-wanita hebat yang mampu bersinar dibidangnya masing-masing seperti Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan, Presiden wanita pertama kita, Megawati Soekarno Putri, ataupun Helvy Tiana Rossa yang berjuang lewat karya-karya sastranya. Kita pun bisa seperti mereka karena pada dasarnya setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Yang terpenting bagaimana usaha kita untuk berkembang dan mewujudkan semua impian kita. Ya, kita bisa menjadi Kartini!
"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” (Kartini - Habis Gelap Terbitlah Terang)


0 komentar:

Posting Komentar