Pagi itu (15/1-2013), hujan mengguyur tanpa henti. Siapa sangka, hujan yang tak berhenti tercurah dari langit ini membawa sebuah kabar kurang menyenangkan untuk para warga kampun Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Semarang.
Belum genap setahun setelah peristiwa longsor yang pertama kali menggegerkan warga sekitar kampus PGSD UNNES yang bertempat di Ngaliyan, Semarang, Sekitar pukul 12.00 WIB bunyi gemuruh kembali mengagetkan warga PGSD FIP UNNES yang tengah disibukkan oleh kegiatan Ujian Akhir Semester Ganjil. Sedikitnya dua bangunan gudang kampus PGSD longsor bersamaan dengan tebing berketinggian 30 meter yang tidak kuat menahan gerusan air hujan. Kedua bangunan yang longsor ini adalah bangunan yang telah menggantung dengan kondisi memprihatinkan dan pernah diliput dalam harian online Suara Merdeka, tertanggal 21 Februari 2012.
“Saat itu saya sedang dibelakang mbak,
sedang mencuci piring. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Saat itu saya kira
hanya bunyi pohon yang tumbang, ternyata bangunan sebelah sudah longsor. Saya langsung
histeris dan berlari keluar.” Ujar ibu penjaga kantin yang enggan disebut
namanya.
Ketika ditanya, Seorang karyawan
Tata Usaha PGSD, Ellit Pipop Setiawan menuturkan bahwa kejadian ini memang terjadi
sekitar pukul 12.00 WIB. Beruntung insiden ini tidak memakan korban jiwa. Pekerja
bangunan yang biasanya menggunakan bangunan tersebut sebagai tempat peristirahatan
sedang tidak berada ditempat saat peristiwa terjadi.
“Tadinya disitu banyak sekali
pekerja bangunan mbak. Tapi entah kenapa tiba-tiba sesaat sebelum kejadian
mereka semua ke mushola untuk melaksanakan sholat. Mungkin Allah masih
melindungi mereka” imbuh ibu kantin.
Ketika disinggung mengenai
penyebab kelongsoran, Wanita paruh baya yang menyaksikan langsung peristiwa ini
hanya menggelengkan kepalanya. Dia menuturkan bahwa ini kedua kalinya kampus
PGSD mengalami longsor. Dugaan sementara penyebab longsor adalah tanah yang
tergerus air hujan tidak kuat lagi menahan beban bangunan.
Arina Fadhilah, Seorang mahasiswa
semester 3 jurusan PGSD yang ditemui ketika melihat tempak kejadian perkara
mengatakan, bahwa sebenarnya kondisi jurang PGSD sudah lama memprihatinkan.
Hanya saja belum pernah ada tindakan berarti dari pihak birokrasi mengenai ini.
Pihak pengembang yang telah dihubungi oleh HUMAS Kampus UNNES sejak satu tahun
yang lalu juga tidak merespon sama sekali surat pengaduan yang dikirimkan.
Peristiwa longsor yang kedua
kalinya terjadi di kampus dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Universitas
Negeri Semarang ini mau tidak mau membawa kembali ketakutan yang sempat melanda
mahasiswanya. Akankah peristiwa seperti ini terulang lagi tahun depan?.(KWK/MI)













0 komentar:
Posting Komentar