Minggu, 09 Desember 2012

AKSI TANAM POHON : DEMI KONSERVASI ATAU DEMI SKRIPSI?

Filled under: ,


Tepat pukul 06.00 WIB, mahasiswa PGSD angkatan 2011 berangkat menuju Kelurahan Plalangan, Gunung Pati untuk mengikuti acara Penanaman Pohon di Desa Binaan FIP. Tiga bus Unnes dipadati mahasiswa yang dikenal sebagai mahasiswa paling penurut ini bertolak dari kampus PGSD, diikuti serangkaian mahasiswa yang mengendarai sepeda motor. Acara penanaman yang dipelopori oleh badan konservasi UNNES ini berlangsung cukup meriah. Ditandai dengan upacara pembukaan dan sambutan oleh pejabat FIP UNNES sebagai pembukaan, Mahasiswa PGSD yang memakai ‘seragam kebesaran’ berupa celana training dan kaos olahraga berwarna hijau menunjukkan antusiasme yang luar biasa.


Acara penanaman 1000 pohon ini diikuti oleh seluruh mahasiswa semester 3 yang berada dibawah naungan FIP. Acara ini dilaksanakan dengan konsep pengabdian masyarakat, sehingga setiap pohon yang dibawa mahasiswa ditanam di sekitar pemukiman penduduk. Sebagai tanda sekaligus indentitas penanam, pohon yang ditanam oleh mahasiswa diberi ‘co-card’ bertuliskan nama, nim, dan nomor telepon mahasiswa.

Hal unik yang menggelitik mengenai acara yang dilaksananak oleh BEM FIP 2012 ini adalah adanya pernyataan yang menyatakan bahwa pohon yang ditanam oleh mahasiswa merupakan salah satu syarat untuk bisa mengikuti skripsi.

Hal ini mendapat reaksi dari mahasiswa, terutama mahasiswa PGSD. Menurut mereka kebijakan mengenai pohon sebagai syarat untuk mengikuti skripsi sedikit berlebihan. Selain mahasiswa PGSD berada jauh dari tempat penanaman pohon, masalah jarak juga menjadi kendala bagi mahasiswa untuk merawat pohon yang telah mereka tanam.
“Kita kan jauh mbak.. nanti kalau pohonnya mati apa kita tidak bisa mengikuti skripsi?” tanya seorang mahasiswa yang enggan disebut namanya ketika bercanda dengan penulis. Kabar mengenai penanaman pohon sebagai syarat skripsi ini diamini oleh Margareta, Ketua Badan Konservasi UNNES.

 “Ya... kegiatan penanaman pohon di desa binaaan FIP tersebut memang merupakan salah satu syarat untuk pengajuan skripsi nanti, bahkan jika ada mahasiswa yang belum melakukan penanaman pohon maka harus segera menanam karena nanti akan di cek oleh bapak masrukhi siapa saja mahasiswa yang belum menanam.“ Katanya ketika ditanya.
Berikut penggalan wawancara singkat dengan beliau :

“lalu bagaimana bukti dan cara kita memonitor pohon kita bu?”

“ya sebelumnya kan sudah dijelaskan bahwa nanti pada awal penanaman bibit pohon difoto, kemudian di upload di siomon, di ukur berapa tingginya, lingkaran batangnya, jumlah daun. Dll. Kemudian kegiatan tersebut dilakukan kembali setelah 3 bulan sekali, atau pada saat nanti musim kemarau. Pemantauan tersebut berlangsung sampai nanti semester akhir, sampai pengajuan skripsi.”

“yah sayang sekali ya buk, tadi masih banyak mahasiswa dari PGSD yang kurang paham dengan instruksi dari kegiatan ini”

“seharusnya sudah ada sosialisasi sebelumnya, seperti di FMIPA, FIS, FE, FH. Sebelumnya ada badan konservasi yang melakukan sosialisasi mengenai kegiatan ini, jika memang dari PGSD kurang dilakukan sosialisasi ya mungkin itu sebagai evaluasi”

“lantas mengapa yang diberi bibit pohon di desa tersebut? Mengapa tidak di kota saja yang jelas-jelas membutuhkan tanaman hijau untuk mengurangi polusi ?”

“Begini, dari awal memang sudah ditetapkan penanaman dilakukan di desa binaan Unnes. Mengapa tidak di kota ya karena di daerah gunung pati ini merupakan daerah penyangga agar kelangsungan wilayah kota tetap terjaga, tidak terjadi longsor, banjir,dsb. Jadi daerah pengunungan harus dikuatkan terlebih dahulu. Baru nanti di daerah kota.”

“Kemudian tadi juga ada beberapa warga yang menolak tanaman mahasiswa seperti mahoni, sengon, asem, dsb. Warga tersebut ada yang beralasan takut kalau nanti sudah besar tanamannya akan menyebabkan ada genderuwonya, ada juga yang takut nanti kalau ada angin kencang dapat merubuhkan rumah, dll. mengapa demikian bu?“

“Mungkin itu karena kurang koordinasi antara kelurahan dengan pihak panitia. Kemarin ada juga yang koordinasinya bagus seperti di FH, jadi mereka mendata tiap RT membutuhkan berapa bibit pohon beserta jenisnya kemudian dari pihak fakultas merekap data tersebut dan menyerahkan kepada panitia untuk penyediaan bibit pohon. Jadi tiap rumah sudah siap dengan bibit pohon yang diinginkan, misalnya bibit A untuk rumah bapak A. Jadi sudah jelas koordinasi penyerahan bibit terhadap warga. Jadi tiap RT ada yang bertanggung jawab, seperti itu.” Jelas Margareta menutup wawancara pagi itu.



Plalangan, 7 desember 2012.

1 komentar: