Tepat
pukul 06.00 WIB, mahasiswa PGSD angkatan 2011 berangkat menuju Kelurahan
Plalangan, Gunung Pati untuk mengikuti acara Penanaman Pohon di Desa Binaan
FIP. Tiga bus Unnes dipadati mahasiswa yang dikenal sebagai mahasiswa paling
penurut ini bertolak dari kampus PGSD, diikuti serangkaian mahasiswa yang
mengendarai sepeda motor. Acara penanaman yang dipelopori oleh badan konservasi
UNNES ini berlangsung cukup meriah. Ditandai dengan upacara pembukaan dan
sambutan oleh pejabat FIP UNNES sebagai pembukaan, Mahasiswa PGSD yang memakai
‘seragam kebesaran’ berupa celana training dan kaos olahraga berwarna hijau
menunjukkan antusiasme yang luar biasa.
Acara
penanaman 1000 pohon ini diikuti oleh seluruh mahasiswa semester 3 yang berada dibawah naungan FIP. Acara ini dilaksanakan dengan
konsep pengabdian masyarakat, sehingga setiap pohon yang dibawa mahasiswa
ditanam di sekitar pemukiman penduduk. Sebagai tanda sekaligus indentitas
penanam, pohon yang ditanam oleh mahasiswa diberi ‘co-card’ bertuliskan nama,
nim, dan nomor telepon mahasiswa.
Hal unik
yang menggelitik mengenai acara yang dilaksananak oleh BEM FIP 2012 ini adalah
adanya pernyataan yang menyatakan bahwa pohon yang ditanam oleh mahasiswa
merupakan salah satu syarat untuk bisa mengikuti skripsi.
Hal ini
mendapat reaksi dari mahasiswa, terutama mahasiswa PGSD. Menurut mereka
kebijakan mengenai pohon sebagai syarat untuk mengikuti skripsi sedikit berlebihan.
Selain mahasiswa PGSD berada jauh dari tempat penanaman pohon, masalah jarak
juga menjadi kendala bagi mahasiswa untuk merawat pohon yang telah mereka
tanam.
“Kita kan
jauh mbak.. nanti kalau pohonnya mati apa kita tidak bisa mengikuti skripsi?”
tanya seorang mahasiswa yang enggan disebut namanya ketika bercanda dengan
penulis. Kabar mengenai penanaman pohon sebagai syarat skripsi ini diamini oleh
Margareta, Ketua Badan Konservasi UNNES.
“Ya... kegiatan penanaman pohon di desa
binaaan FIP tersebut memang merupakan salah satu syarat untuk pengajuan skripsi
nanti, bahkan jika ada mahasiswa yang belum melakukan penanaman pohon maka
harus segera menanam karena nanti akan di cek oleh bapak masrukhi siapa saja
mahasiswa yang belum menanam.“ Katanya ketika ditanya.
Berikut penggalan wawancara
singkat dengan beliau :
“lalu bagaimana bukti dan cara kita memonitor
pohon kita bu?”
“ya
sebelumnya kan sudah dijelaskan bahwa nanti pada awal penanaman bibit pohon
difoto, kemudian di upload di siomon,
di ukur berapa tingginya, lingkaran batangnya, jumlah daun. Dll. Kemudian
kegiatan tersebut dilakukan kembali setelah 3 bulan sekali, atau pada saat
nanti musim kemarau. Pemantauan tersebut berlangsung sampai nanti semester
akhir, sampai pengajuan skripsi.”
“yah sayang sekali ya buk, tadi masih banyak
mahasiswa dari PGSD yang kurang paham dengan instruksi dari kegiatan ini”
“seharusnya
sudah ada sosialisasi sebelumnya, seperti di FMIPA, FIS, FE, FH. Sebelumnya ada
badan konservasi yang melakukan sosialisasi mengenai kegiatan ini, jika memang
dari PGSD kurang dilakukan sosialisasi ya mungkin itu sebagai evaluasi”
“lantas mengapa yang diberi bibit pohon di
desa tersebut? Mengapa tidak di kota saja yang jelas-jelas membutuhkan tanaman
hijau untuk mengurangi polusi ?”
“Begini,
dari awal memang sudah ditetapkan penanaman dilakukan di desa binaan Unnes.
Mengapa tidak di kota ya karena di daerah gunung pati ini merupakan daerah
penyangga agar kelangsungan wilayah kota tetap terjaga, tidak terjadi longsor,
banjir,dsb. Jadi daerah pengunungan harus dikuatkan terlebih dahulu. Baru nanti
di daerah kota.”
“Kemudian tadi juga ada beberapa warga yang
menolak tanaman mahasiswa seperti mahoni, sengon, asem, dsb. Warga tersebut ada
yang beralasan takut kalau nanti sudah besar tanamannya akan menyebabkan ada
genderuwonya, ada juga yang takut nanti kalau ada angin kencang dapat
merubuhkan rumah, dll. mengapa demikian bu?“
“Mungkin
itu karena kurang koordinasi antara kelurahan dengan pihak panitia. Kemarin ada
juga yang koordinasinya bagus seperti di FH, jadi mereka mendata tiap RT
membutuhkan berapa bibit pohon beserta jenisnya kemudian dari pihak fakultas
merekap data tersebut dan menyerahkan kepada panitia untuk penyediaan bibit
pohon. Jadi tiap rumah sudah siap dengan bibit pohon yang diinginkan, misalnya
bibit A untuk rumah bapak A. Jadi sudah jelas koordinasi penyerahan bibit
terhadap warga. Jadi tiap RT ada yang bertanggung jawab, seperti itu.” Jelas
Margareta menutup wawancara pagi itu.
Plalangan, 7 desember
2012.












biasa..dari dulu juga seperti itu.
BalasHapusbut no action more :D