Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Februari 2013

Hujan, Masuk Kantor PGSD harus Lepas Alas kaki

Filled under: ,

Opini by : Kharissa Widya Kresna

Mahasiswa PGSD kini harus bersiap dengan diberlakukannya aturan baru di kantor dosen PGSD yang telah diterapkan mulai tanggal 27 Febuari 2013. Aturan baru ini mengatur mengenai ketentuan untuk melepas alas kaki saat memasuki kantor PGSD. Aturan ini mulai diketahui oleh sejumlah mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan urusan skripsinya ke kantor. Salah satu tujuan pemberlakuan peraturan ini disinyalir adalah untuk menjaga kebersihan kantor PGSD.

Namun jangan khawatir, sebab peraturan ini hanya diberlakukan ketika cuaca tidak memungkinkan, seperti ketika hujan. Ketika hujan, memang kantor PGSD akan terkotori oleh lumpur yang terbawa sepatu mahasiswa yang berlalu-lalang ke kantor PGSD. Seperti yang kita ketahui, kondisi kampus PGSD memang sangat memungkinkan untuk lumpur 'nunut' ke alas sepatu kita. Tetapi sepertinya pihak PGSD perlu mempertimbangkan kembali mengenai peraturan tersebut jika akan diterapkan secara non-kondisional. Sebab tujuan pemberlakuan peraturan akan dibarengi dengan dampak negatif yang mungkin ditimbulkan. Hal ini dikarenakan peraturan ini akan menghambat mobilisasi mahasiswa dan dosen yang berlalu-lalang ke kantor PGSD.

Seorang mahasiwa tingkat akhir sekaligus kakak kos saya, Yudha Jayanti membenarkan tentang adanya peraturan kondisional yang diterapkan di kantor PGSD ketika saya tanyai.

“Tergantung kondisi Dik, kemarin ketika becek memang diminta melepas alas kaki. Tetapi minggu kemarin aku ke kantor nggak  diminta melepas kok.”

Dua mahasiswa tingkat akhir lain yang juga saya tanyai juga mengungkapkan hal senada. Saya memang belum menemui atau bertanya langsung kepada pihak birokrat mengenai berita terkait. Namun tetap saja sedikit pemikiran mulai menyusup dan menggelitik saya. Disatu sisi, peraturan ini sedikit agak memberatkan, mengingat pemberlakuan peraturan ini akan mengganggu mobilisasi mahasiswa maupun dosen di kantor PGSD. Lagipula, bukankah kantor PGSD mempunyai petugas Cleaning Service yang bertugas membersihkan kantor? Tetapi disisi lain, sebagai mahasiswa agen konservasi, hal ini bisa menjadi salah satu usaha kita untuk menjaga kantor PGSD dari kesan kotor dan kumuh ketika hujan tiba. Setidaknya, kampus sederhana kita tetap nyaman dihuni. Benar?  Jadi, Mari bijaksana ^^

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES2/28/2013 06:44:00 PM

Jumat, 14 Desember 2012

MENYOAL SISTEM ERROR PEMIRA ONLINE

Filled under: ,

Hari itu, Rabu, 13 Desember 2012, hiruk-pikuk kegiatan mahasiswa yang lain dari biasanya terlihat di lobi kantor dosen PGSD FIP UNNES. Antrian panjang terlihat mengganggu mobilisasi dosen menuju ruang kuliah, dan suara riuh rendah keluhan mahasiswa terdengar dimana-mana.

Rata-rata mahasiswa PGSD FIP UNNES ini mengeluhkan sistem pengeklikan untuk PEMIRA PRESIDEN BEM KM UNNES 2013 yang sedang mengalami server down.

Terlintas dipikiran saya, kalau antusiasme warga PGSD yang luar biasa ini seakan tidak sebanding dengan persiapan PPU PEMIRA BEM KM ini. Terbukti, jika mengingat jumlah mahasiswa PGSD yang jauh lebih banyak dibandingkan jurusan lain se-UNNES dan antusiasme-nya dalam mengikuti kegiatan kampus yang sudah tersohor ini tidak diimbangi oleh sarana dan prasarana yang memadai oleh PPU. 

Antrian panjang terjadi karena hanya ada dua buah laptop dan 4 buah bilik suara untuk 1100-an total pemilih di kampus PGSD. Selain itu, sistem yang sering down semakin membuat mahasiswa harus antri dan berdiri lebih lama. Padahal, hari itu aktifitas perkuliahan sangat padat.

Seorang teman terlihat keluar antrian dengan raut muka yang cemberut. Ketika saya tanya, dia menuturkan kalau dia ada kuliah dan tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi. Bahkan, ada mahasiswa yang sudah antri sejak jam 10 pagi dan baru bisa mengeklik pada jam 3 sore. Saya saja yang sudah antri berdiri selama dua jam pada akhirnya justru batal masuk bilik suara karena ada kuliah. Menyesakkan sekali. Sayangnya, bukan hanya saya dan dua orang teman saya yang gagal mengeklik, tetapi banyak sekali yang juga tak melakukan pemungutan suara. Alasan mereka sama : Malas mengantri.

Dampak lain yang timbul adalah perpanjangan waktu pemungutan suara. Jadwal pemungutan suara yang awalnya dialokasikan mulai dari jam 08.00-13.00 WIB diperpanjang hingga pukul 14.00 WIB, kemudian diperpanjang lagi hingga pukul 15.30 WIB. Jiwa sarkasme saya seketika muncul : ‘mungkin hal ini dilakukan dengan alasan untuk ‘menebus’ tingginya animo mahasiswa untuk menggunakan suaranya yang terganggu oleh sistem error’.

 Hal ini tentu saja bukan hal yang baik untuk dibanggakan. PEMIRA ONLINE yang dikoar-koarkan ternyata  justru membuat masalah yang lebih rumit daripada sistem pemilihan konvensional dengan cara dicoblos. Bukan bermaksud apa-apa, tetapi jika dibandingkan dengan sistem pemungutan suara dengan sistem pencoblosan seperti yang dilakukan kpu+ppu pemira ka hima 2013 pgsd, pemira dengan sistem mencoblos justru selesai dan melayani lebih banyak, bahkan dengan jangka waktu yang lebih singkat dan tanpa injury time.

PEMIRA konvensional dengan sistem datang-mencoblos-keluar tak perlu menunggu lama hanya untuk mendaftar. Pemilih tinggal menunjukkan KTM dan langsung dipersilahkan menuju bilik suara. Antrian juga terjadi, tetapi tidak sepanjang dan se-melelahkan sistem PEMIRA dengan pengeklikan yang terhadang sistem yang error tanpa bisa diramalkan kapan pulih kembali. PEMIRA konvensional juga menawarkan transparansi yang lebih dipercaya, sebab ada bukti fisik berupa surat suara yang bisa dikroscek sewaktu-waktu, dengan tingkat kecurangan yang jauh lebih kecil dibanding sistem pemira online yang mahasiswa pada umumnya tidak tahu-menahu cara kerjanya.

Hal lain yang membuat saya kecewa adalah ketika ada beberapa mahasiswa PGSD yang mengungkapkan kesan-kesan dan keluhannya mengenai sistem pemira online ini di grup BEM KM, beberapa oknum ‘atasan’ justru menyudutkan mereka dengan alasan kalau IPB saja mempelajari sistem PEMIRA Online milik UNNES, kok mereka malah menghujat sistem bertekhnologi tinggi ini.

Bukannya kami tidak bangga karena kampus kami mengembangkan tekhnologi sehingga menarik  perhatian dari universitas lain, tapi justru karena inilah bukti kepedulian kami. Inilah bukti bahwa kami tetap ingin ambil bagian dalam usaha kemajuan kampus ini. Kami bangga dengan sistem online, tapi kita memang masih perlu banyak berbenah. Jangan sampai sistem PEMIRA Online yang kita banggakan justru berujung pada banyaknya mahasiswa yang malas melakukan pemungutan suara. Jangan sampai tekhnologi yang kita banggakan justru berakhir dengan keapatisan mahasiswa  untuk turut serta dalam pesta demokrasi kampusnya. Banyak solusi yang mungkin bisa kita lakukan untuk memperbaikinya, mungkin dengan merubah sistem pengeklikan yang ‘one day’ menjadi bertahap, atau dengan memperbaiki sistem operasinya. 
Kami angkat bicara karena kami bagian dari pesta demokrasi yang peduli akan masa depan kampus kami.

HIDUP MAHASISWA!




Oleh : Kharissa Widya Kresna

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES12/14/2012 08:15:00 PM

Rabu, 21 November 2012

Ibu Kita, Guru Kita

Filled under: ,


          “Ibu, aku ingin jadi seperti ibu kartini!”, teriak Deha, siswi kelas 1 SD tiba-tiba kepada u gurunya.
“Kenapa kamu ingin seperti ibu kartini Deha?”, tanya ibu guru.
“Supaya teman-teman Deha pintar-pintar semua buk, Deha akan menjadi guru yang baik seperti ibu kartini.”
“Jadi, sebenarnya kamu ingin jadi seperti ibu kartini atau guru Deha?”, selidik bu guru yang mulai tak sabar menghadapi siswanya yang bawel ini.
“Kata ibuku, ibu kartini punya sekolah, beliau mengajarkan cara membaca kepada para wanita. Deha ingin seperti ibu kartini bu. Yang bisa mengajarkan baca tulis kepada semua orang. Termasuk teman-teman Deha yang belum bisa membaca buk. Kenapa ibu guru tidak bisa seperti ibu kartini bu? Apa ibu benci kepada kami?”
Dan, si ibu guru pun tersentak akan kesadaran dan terkejut akan kenyataan banyak siswanya yang belum lancar membaca, sedang selama ini ia hanya santai tanpa menanggung tanggung jawab yang memang ia punyai. Setahun ia menjadi guru, baru kali ini ia mendapat sentakan dari siswanya sendiri. Mengajar tak pernah dari hati, hatinya pun bertanya apakah pantas perilakunya yang seperti ini disebut dengan mengajar?
Pertanyaannya di sini adalah mengapa teman-teman Deha belum bisa membaca. Adalah si ibu guru yang sering jarang masuk serta setengah hati dalam mengajar siswanya. Pada pelajaran pertama belajar  membaca saat itu pun si bu guru hanya menyetel sebuah tayangan, yang biasa dalam dunia pendidikan kita sebut dengan video pembelajaran.

Kisah di atas hanya sekelumit cerita ironi. Si Deha yang hanya anak baru sekolah berumur 6 tahun pun begitu cerdas menyikapi perjuangan R.A Kartini. Pendidikan informalnya pun dijaga dengan baik oleh orang tuanya. Termasuk mengenai kisah patriotisme keteladanan ibu kartini yang Deha mengenalnya langsung, dari cerita yang terlontar dari bibir ibunya. Dari kisah ibu kartini yang diceritakan oleh ibunya, Deha dengan potensi cerdasnya mulai menyadari betapa selama ini ibu kartini berjuang agar anak perempuan dapat bersekolah. Sedang di sekolah, si ibu guru hanya memutar video, tak pernah mengajar, memberi PR, maupun sekadar memeriksa buku catatannya. Deha dengan semangat besar yang kontras dengan tubuh mungilnya, tak mengerti mengapa gurunya di sekolah tak meniru perjuangan ibu kartini.
Mari kita renungi intermezzo yang ironi dan terasa di kehidupan nyata. Betapa tidak, orientasi para pendidik di era globalisasi, entah era apa yang pantas disebutkan demi fenomena ini. Tak jelas di dasari oleh apa. Kalau pemerintah bilang ini zaman globalisasi di mana tak ada lagi batas antar negara di dunia ini, maka kita hanya bisa menyebutnya sebagai zaman yang ditelanjangi. Bagaimana tidak, tanpa kita sadari, perlahan negara kita akan kembali terjajah bangsa koloni. Siapa yang bisa menjamin kita tidak ditelanjangi demi melihat budaya, moral, nilai, serta norma bangsa Indonesia satu persatu dicopot dan dibuang. Di lupakan dan hanya menjadi catatan usang dalam buku pelajaran sejarah. Ibu Kartini, pahlawan bangsa, yang tak hanya berperan dalam memperjuangkan persamaan gender, juga mengajarkan kepada kita khususnya pada banyak wanita bahwa wanita tak hanya berwenang di kantor yang bernama dapur dan rumah tangga saja. Akan tetapi, wanita juga punya hak untuk berperan di luar. Kartini, yang ingin mendirikan sekolah, dengan masih memegang rasa sopan dan hormatnya kepada sang suami (R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat) tak segan meminta izin kepada suami demi keinginannya mendirikan sekolah. Inilah nilai luhur yang diajarkan kepada kita para wanita khususnya dan lelaki pada umunya. Betapa indahnya pelajaran yang dapat kita teladani. Kartini dengan semangat meggebu-gebunya ingin mencerdaskan teman-teman perempuannya, berkeinginan akan mendirikan sekolah. Akan tetapi tak lupa pula akan statusnya sebagai seorang istri, ia pun meminta izin kepada sang suami terlebih dahulu untuk mendirikan sekolah. Sang suami yang notabene tak hanya beristrikan ibu Kartini, dengan senang hati mempersembahkan bangunan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
 Ini juga menjadi pelajaran bagi kaum pria. Kaum pria juga tak bisa seenaknya memperlakukan wanita dengan seenak hatinya. Bahwa kaum wanita juga sama derajatnya dengan kaum pria, maka dari R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat para pria bisa belajar untuk menghormati dan memperhatikan kaum wanita. Dengan rasa penuh kasih, meskipun kasih sayangnya tak hanya untuk Kartini, Bupati Rembang ini pun memberi kebebasan kepada istri mudanya itu untuk mendirikan sekolah wanita.
Maka dari kisah patriotik ibu Kartini ini, apalagi yang bisa meragukan kita untuk tetap memperjuangkan nilai-nilai positif yang dijunjung tinggi ibu Kartini untuk tetap memperjuangkan hak-hak para wanita di bumi pertiwi. Baik wanita maupun pria juga berhak untuk sekolah sampai tingkat yang diinginkan. Bukankah dalam agama juga diwajibkan untuk mencari ilmu sampai ke negeri China.
Untuk para bapak dan ibu guru, maupun calon bapak dan ibu guru, maka niat apa yang mendasari engkau untuk menjadi seorang guru yang mempunyai mandat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita patut malu kepada Deha si gadis kecil tadi, jika ia yang masih kecil saja kagum pada Ibu Kartini dan ingin melanjutkan perjuangan Ibu kita ini, maka sebagai guru bangsa yang harusnya menjadi panutan bagi siswa-siswinya apakah cukup hanya dengan memutarkan video pembelajaran dan menyuruh siswanya menonton tanpa tahu harus berbuat apa, inikah yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanpa jasa?
Bercermin dari perjuangan Ibu Kartini, tidak inginkah kita untuk melangkah dengan pasti, demi anak didik generasi bangsa telaten membuka cakrawala dunia kepada anak-anak yang buta. Yang butuh obat untuk membuka pengilhatannya untuk dapat memandang dunia lebih jauh lagi. Obat itu, telah dengan susah payah oleh Ibu Kartini untuk diramu bagi anak perempuan bangsa Indonesia. Maka tugas para Guru adalah mempertahankan resep ramuan mujarab itu baik untuk anak lelaki maupun anak perempuan agar semua anak bangsa sembuh dari kebutaan ilmu.


Hilyatifa Dafina Putri

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES11/21/2012 12:21:00 PM

Jumat, 13 April 2012

KARTINI SAJA TIDAK CUKUP (Mempertanyakan jiwa muda para kaum muda)

Filled under: , ,


Oleh Juita Ayu Nilamsari

...Bulan yang lalu, saya baru saja 20 tahun. Aneh, bahwa ketika berumur 16 tahun, saya memandang diri saya tua sekali dan kerap kali berhati murung. Dan sekarang, setelah saya melampaui umur 20 tahun, saya merasa muda sekali dan penuh gairah hidup dan... juga suka berjuang.
Panggil saya Kartini saja, begitu nama saya...

(Surat pertama Kartini kepada Estelle Zeehandelaar 25 Mei 1899)

Sejak meninggalkan sekolah pada umur 12 tahun , Kartini, seorang perempuan Jawa yang lahir di Jepara, 21 April 1879 itu merasa tersiksa. Dia harus menjalani masa pingitan di dalam sangkar sempit bernama rumah, dengan dikelilingi empat tembok besar. Dia merasa terkurung di dalam kehidupan yang gelap dan kelam. Kehampaannya tidak sekedar itu.  Adat istiadat tidak mengijinkan Kartini bebas berkomunikasi dengan dunia luar, dia hanya menunggu seorang pria pilihan ayahnya, yang tidak ia kenal dan akan menikahinya. Ayahnya juga menolak keinginan Kartini untuk melanjutkan sekolah dan dia mulai terganggu dengan pemikiran-pemikiran feodal Belanda. Sejak itu, jiwa muda Kartini meletup-letup.
Kartini membaca berbagai jenis buku, mengamati keadaan negerinya yang miskin kebebasan, mengkaji peradaban modern Eropa, sekaligus memikirkan nasib perempuan bangsanya. Kartini menuangkan keresahannya melalui surat dan tulisan-tulisannya di majalah De Hollandsche Lelie. Jiwa muda Kartini semakin bergejolak, dia bahkan mendirikan sekolah Kartini dan melakukan berbagai perubahan.
Kartini yang cerdas dan berjiwa muda telah memberontak ketidakadilan dengan begitu menawan. Kritikannya tepat sasaran, sesuai dengan realita. Tetapi, bagaimana dengan kaum muda jaman sekarang ? Sudahkah memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsanya ? Atau hanya melawan dan membangkang ? Atau memilih bersikap pasif ?
Sebenarnya sudah cukup banyak pemuda Indonesia yang berprestasi dan inspiratif, menciptakan berbagai penemuan, terjun ke dalam dunia sosial, melakukan kritik tepat sasaran terhadap pemerintah, dan melakukan tindakan-tindakan terpuji lainnya. Generasi muda seperti itulah yang jiwa mudanya telah hidup. Namun tidak sedikit pula kaum muda yang berkelakuan sebaliknya, misalnya memakai narkoba, merusak lingkungan, melakukan kekerasan, dan pasif terhadap masalah sosial.
Menyandang peran sebagai penentu nasib bangsa, penyampai kebenaran, dan agen perubahan, kaum muda seharusnya sadar bahwa dia tidak hanya dibutuhkan dapat bergerak untuk saat ini dan untuk dirinya sendiri, tetapi juga berjuang untuk masa depan dan kehidupan banyak orang. Kaum muda harus bergerak, melakukan, bertindak, dan mewujudkan perubahan.
Semangat jiwa muda harus bercokol kuat dalam diri setiap pemuda dan terus tumbuh hingga mengakar kuat, membumbung tinggi, dan membawa manfaat bagi bangsa.  Kaum muda harus berfikiran luas dan berkeinginan besar untuk menciptakan kebermanfaatan dalam berbagai sektor kehidupan sesuai background pendidikan, keberbakatan, dan minat masing-masing. Jika R.A. Kartini saja yang bergerak, itu tidak cukup!
...Kami akan menggoncangkannya, Ibu sayang, dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh cuma satu butir batu saja, maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia... (Surat Kartini kepada Ny. MCE Ovink-Soer awal tahun1900)

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES4/13/2012 12:34:00 PM