delapan
juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
Lewat
Sajak Sebatang Lisong-nya, W.S. Rendra telah memotret wajah pendidikan di
Indonesia. Mungkin seperti itulah nasib anak bangsa yang belum bisa mengenyam
pendidikan yang layak dalam rangka menyejahterakan kehidupannya. Pendidikan
yang menjadi ujung tombak dalam pembangunan nasional, nyatanya belum dapat
merata di seluruh wilayah Indonesia.
Negara
ini masih belum bisa menunaikan janji kemerdekaan secara sempurna: mencerdaskan
kehidupan bangsa. Hingga kini masih banyak anak bangsa yang masih menunggu
terlunasinya janji kemerdekaan itu. Mereka belum mendapat pendidikan yang layak
sehingga mereka belum bisa mencapai kehidupan yang yang lebih baik untuk diri
dan keluarganya, mereka belum bisa mengangkat kehidupan ekonomi dan sosialnya.
Orang-orang
seperti Yohanes Surya yakin betul bahwa sebenarnya banyak anak bangsa yang
mempunyai potensi untuk berprestasi, termasuk anak-anak dari daerah terpencil
di seluruh pelosok Nusantara. Mereka mempunyai kemampuan yang tak kalah dari
siswa di Jakarta atau daerah lain yang maju jika diberi kesempatan yang sama.
Maka, tugas negaralah membuka kesempatan itu secara luas, salah satunya dengan
pemerataan pendidikan.
Ironis
rasanya, ketika sesama saudara masih belum bisa mencapai kehidupan yang lebih
baik karena alasan belum mendapat pendidikan yang layak. Maka, ketika janji
kemerdekaan itu belum terlunasi hingga seluruhnya, orang-orang yang tidak
berpendidikan merupakan dosa orang-orang berpendidikan. Karena pendidikan
merupakan hak setiap warga yang harus dipenuhi tanpa kecuali.
Sehingga,
kita sebagai bagian dari negara berkewajiban memenuhi hak asasi itu secara
utuh. Kita mengemban tugas untuk ikut menunaikan janji kemerdekaan yang telah
diikrarkan.











0 komentar:
Posting Komentar