Jumat, 13 April 2012

BUKAN SEMBARANG EMANSIPASI (Sebuah Perbincangan dengan Ibu Sri Sugiatmi)

Filled under: ,


Tanggal 21 April dipilih sebagai hari untuk mengenang jasa Ibu Kartini yang telah memperjuangkan hak-hak wanita Indonesia. Kebebasan untuk menempuh pendidikan  yang setinggi-tingginya, penghormatan terhadap perempuan, dan adanya perlindungan hukum merupakan hasil perjuangan pahlawan wanita yang lahir di Mayong, Jepara itu. Tetapi, harus diakui pula bahwa penghargaan terhadap jasa-jasa beliau sering dilupakan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ibu Sri Sugiyatmi, salah satu dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Semarang (UNNES). “Ibu Kartini adalah seorang perempuan yang telah merintis perjuangan untuk para perempuan agar memperoleh hak-haknya. Beliau harus dikenang karena tanpa perjuangan dari beliau, perempuan sekarang ini tidak akan mendapat pendidikan dan memperoleh penghidupan yang layak sebagaimana sekarang ini. Saya sangat berterimakasih kepada Ibu Kartini, karena saya bisa menjadi dosen seperti sekarang ini juga karena perjuangan Ibu Kartini. Dapat dibayangkan apabila tanpa ibu Kartini, perempuan hanyalah seorang manusia yang kegiatan sehari-harinya memasak, melayani suami dan berhias diri. Tetapi sebelum semua tujuan Ibu Kartini terwujud beliau telah meninggal, setidaknya apa yang diinginkan beliau sedikit banyak telah terpenuhi.” , tambahnya.
Perjuangan Kartini dalam menuntut ditegakkannya hak-hak wanita merupakan upaya yang sangat berat. Keberhasilan beliau dapat dirasakan hingga sekarang, seperti rasa penghormatan terhadap perempuan, kebebasan memperoleh pendidikan dan pengakuan atas prestasi-prestasi perempuan. Beliau tidak setuju bahwa wanita hanya berdiam di rumah dan berkutat di dapur. Wanita juga harus mampu menyaingi laki-laki dalam mengembangkan diri. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa emansipasi yang acapkali diagung-agungkan itu tetap harus menempatkan wanita sesuai dengan kodrat, yaitu wanita tetap sebagai ibu yang mendidik anak dan melayani suami.
“Meskipun sekarang banyak wanita yang berprofesi sama dengan laki-laki, bukan menjadi masalah selama wanita tersebut mampu melakukan pekerjaan itu dengan baik dengan tetap menjalankan kewajibannya”, tutur dosen yang ahli mengajar mata kuliah IPA itu.
Pokok harapan seorang Kartini adalah kehidupan yang lebih layak bagi wanita. Meskipun keinginan beliau belum seluruhnya terwujud, menurut pengamatan Ibu Sri Sugiatmi, mahasiswi PGSD sudah dapat mewujudkan harapan Ibu Kartini sebesar 80%, meskipun ada sebagian perempuan yang berpakaian dan berperilaku yang tidak sepantasnya karena ketidaktahuan mereka atas batasan-batasan emansipasi. Sedangkan wanita di luar PGSD hanya memenuhi harapan Ibu Kartini sebesar 60%, dengan perhitungan 40% yang lainnya masih terpengaruh kebudayaan barat seperti memakai pakaian yang terbuka dan tidak sepantasnya.
Pada akhirnya Ibu Sugiyatmi berpesan kepada mahasiswi  PGSD secara khusus dan kepada semua wanita pada umumnya bahwa sebaiknya wanita tetap menjalankan kodratnya sebagai perempuan. Wanita boleh menempuh pendidikan sesuai minatnya dan mendapatkan profesi yang lebih tinggi dari suami dengan tetap menyadari peran dan kodratnya sebagai perempuan yang lembut, sopan, berbelas kasih, pendidik bagi anak-anak sekaligus pelayan bagi suami.


0 komentar:

Posting Komentar