Tampilkan postingan dengan label desember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label desember. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

Menanti Karya Dari Gubernur Baru Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)

Filled under: ,



        Pukul 20.45 WIB penghitugan suara pemilihan Raya (PEMIRA) BEM FIP 2013 mulai dilakukan, acara yang sempat tertunda 45 menit dari jadwal semula ini dibuka oleh Pembantu dekan 3 Sutaryono,

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES12/19/2012 12:32:00 AM

Jumat, 14 Desember 2012

MENYOAL SISTEM ERROR PEMIRA ONLINE

Filled under: ,

Hari itu, Rabu, 13 Desember 2012, hiruk-pikuk kegiatan mahasiswa yang lain dari biasanya terlihat di lobi kantor dosen PGSD FIP UNNES. Antrian panjang terlihat mengganggu mobilisasi dosen menuju ruang kuliah, dan suara riuh rendah keluhan mahasiswa terdengar dimana-mana.

Rata-rata mahasiswa PGSD FIP UNNES ini mengeluhkan sistem pengeklikan untuk PEMIRA PRESIDEN BEM KM UNNES 2013 yang sedang mengalami server down.

Terlintas dipikiran saya, kalau antusiasme warga PGSD yang luar biasa ini seakan tidak sebanding dengan persiapan PPU PEMIRA BEM KM ini. Terbukti, jika mengingat jumlah mahasiswa PGSD yang jauh lebih banyak dibandingkan jurusan lain se-UNNES dan antusiasme-nya dalam mengikuti kegiatan kampus yang sudah tersohor ini tidak diimbangi oleh sarana dan prasarana yang memadai oleh PPU. 

Antrian panjang terjadi karena hanya ada dua buah laptop dan 4 buah bilik suara untuk 1100-an total pemilih di kampus PGSD. Selain itu, sistem yang sering down semakin membuat mahasiswa harus antri dan berdiri lebih lama. Padahal, hari itu aktifitas perkuliahan sangat padat.

Seorang teman terlihat keluar antrian dengan raut muka yang cemberut. Ketika saya tanya, dia menuturkan kalau dia ada kuliah dan tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi. Bahkan, ada mahasiswa yang sudah antri sejak jam 10 pagi dan baru bisa mengeklik pada jam 3 sore. Saya saja yang sudah antri berdiri selama dua jam pada akhirnya justru batal masuk bilik suara karena ada kuliah. Menyesakkan sekali. Sayangnya, bukan hanya saya dan dua orang teman saya yang gagal mengeklik, tetapi banyak sekali yang juga tak melakukan pemungutan suara. Alasan mereka sama : Malas mengantri.

Dampak lain yang timbul adalah perpanjangan waktu pemungutan suara. Jadwal pemungutan suara yang awalnya dialokasikan mulai dari jam 08.00-13.00 WIB diperpanjang hingga pukul 14.00 WIB, kemudian diperpanjang lagi hingga pukul 15.30 WIB. Jiwa sarkasme saya seketika muncul : ‘mungkin hal ini dilakukan dengan alasan untuk ‘menebus’ tingginya animo mahasiswa untuk menggunakan suaranya yang terganggu oleh sistem error’.

 Hal ini tentu saja bukan hal yang baik untuk dibanggakan. PEMIRA ONLINE yang dikoar-koarkan ternyata  justru membuat masalah yang lebih rumit daripada sistem pemilihan konvensional dengan cara dicoblos. Bukan bermaksud apa-apa, tetapi jika dibandingkan dengan sistem pemungutan suara dengan sistem pencoblosan seperti yang dilakukan kpu+ppu pemira ka hima 2013 pgsd, pemira dengan sistem mencoblos justru selesai dan melayani lebih banyak, bahkan dengan jangka waktu yang lebih singkat dan tanpa injury time.

PEMIRA konvensional dengan sistem datang-mencoblos-keluar tak perlu menunggu lama hanya untuk mendaftar. Pemilih tinggal menunjukkan KTM dan langsung dipersilahkan menuju bilik suara. Antrian juga terjadi, tetapi tidak sepanjang dan se-melelahkan sistem PEMIRA dengan pengeklikan yang terhadang sistem yang error tanpa bisa diramalkan kapan pulih kembali. PEMIRA konvensional juga menawarkan transparansi yang lebih dipercaya, sebab ada bukti fisik berupa surat suara yang bisa dikroscek sewaktu-waktu, dengan tingkat kecurangan yang jauh lebih kecil dibanding sistem pemira online yang mahasiswa pada umumnya tidak tahu-menahu cara kerjanya.

Hal lain yang membuat saya kecewa adalah ketika ada beberapa mahasiswa PGSD yang mengungkapkan kesan-kesan dan keluhannya mengenai sistem pemira online ini di grup BEM KM, beberapa oknum ‘atasan’ justru menyudutkan mereka dengan alasan kalau IPB saja mempelajari sistem PEMIRA Online milik UNNES, kok mereka malah menghujat sistem bertekhnologi tinggi ini.

Bukannya kami tidak bangga karena kampus kami mengembangkan tekhnologi sehingga menarik  perhatian dari universitas lain, tapi justru karena inilah bukti kepedulian kami. Inilah bukti bahwa kami tetap ingin ambil bagian dalam usaha kemajuan kampus ini. Kami bangga dengan sistem online, tapi kita memang masih perlu banyak berbenah. Jangan sampai sistem PEMIRA Online yang kita banggakan justru berujung pada banyaknya mahasiswa yang malas melakukan pemungutan suara. Jangan sampai tekhnologi yang kita banggakan justru berakhir dengan keapatisan mahasiswa  untuk turut serta dalam pesta demokrasi kampusnya. Banyak solusi yang mungkin bisa kita lakukan untuk memperbaikinya, mungkin dengan merubah sistem pengeklikan yang ‘one day’ menjadi bertahap, atau dengan memperbaiki sistem operasinya. 
Kami angkat bicara karena kami bagian dari pesta demokrasi yang peduli akan masa depan kampus kami.

HIDUP MAHASISWA!




Oleh : Kharissa Widya Kresna

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES12/14/2012 08:15:00 PM

Rabu, 12 Desember 2012

187 SURAT SUARA RUSAK, 437 LAINNYA ABSTAIN.

Filled under: ,



Selasa, 11 Desember 2012 tepat pada pukul 14:00 WIB, perhitungan suara pemilihan raya ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) masa bakti 2013-2014 dimulai. Pemungutan suara yang dilakukan di halaman parkir kampus PGSD FIP UNNES ini sedikitnya  menghimpun 763 surat suara dari total 1200 surat suara yang disediakan KPU. Dari data statistik perhitungan suara, Calon ketua HIMA nomor 1, Witri Sugiharto memperoleh 174 Suara.  402 suara lainnya  diperoleh Mukhlishon Addien Perdana sebagai Calon Ketua HIMA Nomor urut dua, sedangkan surat suara yang rusak mencapai 187 suara.  437 lainnya memilih abstain atau tidak melalkukan pencoblosan. Hasil perhitungan ini  mengantarkan Mukhlishon Addien Perdana menjadi ketua HIMA 2013 terpilih.

Fenomena yang menarik disini adalah banyaknya surat suara yang rusak. Sedikitnya 187 surat suara dinyatakan tidak sah karena tidak memenuhi prosedur pencoblosan yang benar. Jumlah ini  menjadi menarik sebab mengalahkan jumlah perolehan suara Calon nomor satu yang hanya menunjukkan angka 174 suara. Penyebab banyaknya surat suara rusak yang cukup fenomenal ini kurang diketahui. Diduga, penyebab utamanya adalah faktor kesalahan teknis karena pemilih tidak memperhatikan lipatan kertas yang rangkap, namun tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian besar surat suara yang rusak juga dilatarbelakangi oleh faktor kesengajaan. Hanya saja alasan kesengajaan ini masih abu-abu.

Terlepas dari tanda tanya yang meliputi surat suara yang rusak, Ketua HIMA 2013 terpilih, menuturkan bahwa kesuksesannya menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di HIMA PGSD 2013 ini merupakan amanah dan tanggungjawab besar yang dilimpahkan kepada dirinya. Lebih lanjut, Mukhlison mengucapkan terimakasih kepada tim sukses pencalonan (TSP)-nya yang setia berjuang untuk dirinya. Ketika disinggung mengenai langkah pertama yang akan dia lakukan sebagai ketua HIMA 2013, Mukhlish menuturkan bahwa dia akan melaksanakan serap aspirasi untuk memetakan keinginan warga PGSD.

“Rencana pertama, karena mengingat bahwa kondisi PGSD akhir-akhir ini sedang panas,  InsyaAllah saya akan menggelar serap aspirasi dengan menempelkan karton di lapangan parkir ini, atau door to door ke kost teman-teman”. Ujarnya. Selanjutnya, Mukhlish juga menuturkan akan merumuskan program kerja apabila nantinya fungsionaris HIMA PGSD 2013 sudah terbentuk.

Seiring dengan terbentuknya HIMA 2013 yang masih dalam proses, maka berakhirlah masa kerja HIMA 2012. Ketua HIMA 2012, Rahma Huda Putranto menuturkan bahwa dirinya berharap Mukhlish mampu menjadi pemersatu rakyat PGSD.

“Saya melihat sosok mukhlishon ini sebagai sosok yang cerdas dan mempunyai kedewasaan yang mumpuni. Selain itu, dia ini bisa menentukan langkah yang tepat.” Ujarnya ketika ditanya mengenai sosok ketua HIMA yang baru.

Ketika dimintai tanggapan mengenai surat suara yang rusak dan yang abstain, Huda menuturkan bahwa tahun ini menunjukkan suatu peningkatan, sebab tahun kemarin (2011,-red) jumlah suara yang masuk ke KPU tidak mencapai angka 700 suara. Hal ini merupakan tanda bahwa masyarakat PGSD mempunyai tanggapan dan perhatian positif terhadap HIMA dan masa depan PGSD.

“Pesan pertama, untuk saudara Mukhlison, kembalikan mahasiswa kepada hakikatnya yang utama. Kemudian untuk mahasiswa PGSD, tolong jaga persatuan dan kesatuan PGSD, sebab kekuatan  PGSD ada disana. Saya, atas nama pribadi dan HIMA 2012 memohon maaf apabila ada kinerja kami yang kurang berkenan, dan juga kami mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan teman-teman semuanya.” Ucapnya menutup pembicaraan.

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES12/12/2012 09:56:00 PM

Minggu, 09 Desember 2012

Lagi, FUMMI Juarai Futsal se-Semarang Raya

Filled under: ,




            ROHIS FIP atau sering disebut Forum Ukuwah Mahassiwa Ilmu Pendiikan (FUMMI)  kembali mengangkat trofi juara pertama untuk kedua kalinya secara berturut - turut dalam pertandingan futsal yang

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES12/09/2012 09:14:00 PM

AKSI TANAM POHON : DEMI KONSERVASI ATAU DEMI SKRIPSI?

Filled under: ,


Tepat pukul 06.00 WIB, mahasiswa PGSD angkatan 2011 berangkat menuju Kelurahan Plalangan, Gunung Pati untuk mengikuti acara Penanaman Pohon di Desa Binaan FIP. Tiga bus Unnes dipadati mahasiswa yang dikenal sebagai mahasiswa paling penurut ini bertolak dari kampus PGSD, diikuti serangkaian mahasiswa yang mengendarai sepeda motor. Acara penanaman yang dipelopori oleh badan konservasi UNNES ini berlangsung cukup meriah. Ditandai dengan upacara pembukaan dan sambutan oleh pejabat FIP UNNES sebagai pembukaan, Mahasiswa PGSD yang memakai ‘seragam kebesaran’ berupa celana training dan kaos olahraga berwarna hijau menunjukkan antusiasme yang luar biasa.


Acara penanaman 1000 pohon ini diikuti oleh seluruh mahasiswa semester 3 yang berada dibawah naungan FIP. Acara ini dilaksanakan dengan konsep pengabdian masyarakat, sehingga setiap pohon yang dibawa mahasiswa ditanam di sekitar pemukiman penduduk. Sebagai tanda sekaligus indentitas penanam, pohon yang ditanam oleh mahasiswa diberi ‘co-card’ bertuliskan nama, nim, dan nomor telepon mahasiswa.

Hal unik yang menggelitik mengenai acara yang dilaksananak oleh BEM FIP 2012 ini adalah adanya pernyataan yang menyatakan bahwa pohon yang ditanam oleh mahasiswa merupakan salah satu syarat untuk bisa mengikuti skripsi.

Hal ini mendapat reaksi dari mahasiswa, terutama mahasiswa PGSD. Menurut mereka kebijakan mengenai pohon sebagai syarat untuk mengikuti skripsi sedikit berlebihan. Selain mahasiswa PGSD berada jauh dari tempat penanaman pohon, masalah jarak juga menjadi kendala bagi mahasiswa untuk merawat pohon yang telah mereka tanam.
“Kita kan jauh mbak.. nanti kalau pohonnya mati apa kita tidak bisa mengikuti skripsi?” tanya seorang mahasiswa yang enggan disebut namanya ketika bercanda dengan penulis. Kabar mengenai penanaman pohon sebagai syarat skripsi ini diamini oleh Margareta, Ketua Badan Konservasi UNNES.

 “Ya... kegiatan penanaman pohon di desa binaaan FIP tersebut memang merupakan salah satu syarat untuk pengajuan skripsi nanti, bahkan jika ada mahasiswa yang belum melakukan penanaman pohon maka harus segera menanam karena nanti akan di cek oleh bapak masrukhi siapa saja mahasiswa yang belum menanam.“ Katanya ketika ditanya.
Berikut penggalan wawancara singkat dengan beliau :

“lalu bagaimana bukti dan cara kita memonitor pohon kita bu?”

“ya sebelumnya kan sudah dijelaskan bahwa nanti pada awal penanaman bibit pohon difoto, kemudian di upload di siomon, di ukur berapa tingginya, lingkaran batangnya, jumlah daun. Dll. Kemudian kegiatan tersebut dilakukan kembali setelah 3 bulan sekali, atau pada saat nanti musim kemarau. Pemantauan tersebut berlangsung sampai nanti semester akhir, sampai pengajuan skripsi.”

“yah sayang sekali ya buk, tadi masih banyak mahasiswa dari PGSD yang kurang paham dengan instruksi dari kegiatan ini”

“seharusnya sudah ada sosialisasi sebelumnya, seperti di FMIPA, FIS, FE, FH. Sebelumnya ada badan konservasi yang melakukan sosialisasi mengenai kegiatan ini, jika memang dari PGSD kurang dilakukan sosialisasi ya mungkin itu sebagai evaluasi”

“lantas mengapa yang diberi bibit pohon di desa tersebut? Mengapa tidak di kota saja yang jelas-jelas membutuhkan tanaman hijau untuk mengurangi polusi ?”

“Begini, dari awal memang sudah ditetapkan penanaman dilakukan di desa binaan Unnes. Mengapa tidak di kota ya karena di daerah gunung pati ini merupakan daerah penyangga agar kelangsungan wilayah kota tetap terjaga, tidak terjadi longsor, banjir,dsb. Jadi daerah pengunungan harus dikuatkan terlebih dahulu. Baru nanti di daerah kota.”

“Kemudian tadi juga ada beberapa warga yang menolak tanaman mahasiswa seperti mahoni, sengon, asem, dsb. Warga tersebut ada yang beralasan takut kalau nanti sudah besar tanamannya akan menyebabkan ada genderuwonya, ada juga yang takut nanti kalau ada angin kencang dapat merubuhkan rumah, dll. mengapa demikian bu?“

“Mungkin itu karena kurang koordinasi antara kelurahan dengan pihak panitia. Kemarin ada juga yang koordinasinya bagus seperti di FH, jadi mereka mendata tiap RT membutuhkan berapa bibit pohon beserta jenisnya kemudian dari pihak fakultas merekap data tersebut dan menyerahkan kepada panitia untuk penyediaan bibit pohon. Jadi tiap rumah sudah siap dengan bibit pohon yang diinginkan, misalnya bibit A untuk rumah bapak A. Jadi sudah jelas koordinasi penyerahan bibit terhadap warga. Jadi tiap RT ada yang bertanggung jawab, seperti itu.” Jelas Margareta menutup wawancara pagi itu.



Plalangan, 7 desember 2012.

Posted By Jurnalistik PGSD UNNES12/09/2012 12:17:00 AM